Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2007

Selamat siang teman-teman
Saat ini kita melanjutkan lagi seri pendidikan investasi seri ke VI dalam pembahasan minggu kemarin saya telah memaparkan perhitungan bunga dan keajaibannya. untuk minggu ini saya menampilkan investasi dalam bentuk lain selamat mambaca

Beli dan Miliki Sebanyak
Mungkin Harta Produktif

Oke, saya tidak suka berbasa-basi, kita langsung saja masuk ke Kiat Nomor 1 dalam mengelola gaji Anda sebagai seorang karyawan. Anggap saja Anda memutuskan membaca Tulisan ini di rumah. Anda duduk di sofa yang nyaman di depan teve, menyilangkan kaki Anda di atas kursi sambil mulai membaca. Di samping Anda tersedia segelas minuman yang siap memuaskan dahaga Anda. Sekarang, saya minta Anda menaruh sebentar Tulisan Anda, dan melihat ke sekeliling selama 10 detik.

Sudah?

Jika belum, sekali lagi, taruh sebentar Tulisan ini di pangkuan Anda, lalu lihat ke sekeliling Anda. Saya hanya minta waktu Anda 10 detik untuk melakukannya.

Sudah Anda lakukan?

Oke.

Pertanyaan saya sederhana, barang-barang apa saja yang Anda lihat di depan mata
Anda selama 10 detik tadi?

Mungkin Anda mulai berpikir: sebuah teve, radio tape, perabot rumah, hiasan dinding, meja makan, dan seterusnya.
Daripada Anda sekadar melihat ke sekeliling selama 10 detik, bagaimana kalau saya minta Anda melakukan satu hal sederhana berikut: ambil kertas kosong dan pulpen. Tuliskan barang-barang yang sudah Anda milik di rumah.

Contoh:

teve,
radio tape,
perabot rumah,
hiasan dinding,
meja makan,
dan sebagainya.
Tulislah sekarang! Sebanyak mungkin. Saya beri waktu 10 menit.

Di bagian atas kertas tersebut, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

“Apa yang Sudah Saya Kumpulkan Sampai Saat Ini”

Agak ke bawah, tuliskan:

a. Harta di rumah
Kalau sudah, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Di bawahnya, saya minta Anda menulis seperti ini:

b. Harta tetap
Lalu, di bawahnya tulis:
Rumah (kalau memang rumah yang Anda tempati sekarang adalah rumah
sendiri, bukan mengontrak)
Mobil atau motor (kalau Anda memang memilikinya). Jangan lupa tulis
mereknya.

Sekarang, di kertas Anda mungkin akan tertulis seperti pada dibawah ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI

a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Sekarang, di bawahnya, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

c. Harta di Bank
Lalu, di bawahnya tulis:
Tabungan (sebutkan banknya)
Deposito (sebutkan banknya)

Setelah itu, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang

c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri

d. Harta Lain
Di bawahnya, tuliskan harta lain yang Anda miliki kalau memang ada seperti
reksadana, koin emas, dan lain-lain.

Sekarang, di kertas Anda akan tertulis seperti ini.

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
d. Harta Lain
Reksadana Pendapatan Tetap (dari Trimegah)
Jangan lupa, kalau Anda mempunyai harta lain seperti tanah atau produk-produk
invesatsi lain, tulis juga. Kalau Anda memiliki bisnis, jangan lupa tulis juga di bagian Harta Lain itu.

Sekarang, saya minta Anda mengambil kertas baru, dan bagi kertas tersebut menjadi dua kolom sebagai berikut:

Dari dua kolom tersebut, di sebelah kanan atas tulis “HARTA KONSUMTIF”, dan di
kolom sebelah kiri, tulis “HARTA PRODUKTIF”.

Pindahkan daftar harta yang sudah Anda tulis tadi ke dalam kertas baru ini.

Caranya mudah, bila harta yang Anda tulis di kertas pertama tadi tidak memberikan penghasilan untuk Anda, entah penghasilan bulanan maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah kanan, di bawah tulisan “HARTA KONSUMTIF”.

Namun, bila harta tersebut memberikan penghasilan kepada Anda, entah bulanan
maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah
kiri, di bawah tulisan “HARTA PRODUKTIF”.

Sekadar catatan:

• Untuk Rumah, bila rumah tersebut Anda tempati, masukkan di kolom sebelah
kanan, di bawah Harta Konsumtif.
• Untuk Tabungan, kalau tabungan itu sering Anda ambil untuk belanja atau
keperluan konsumtif, anggap saja Harta Konsumtif. Kalau tabungan itu tidak
pernah diambil, bolehlah Anda masukkan ke Harta Produktif (biarpun
produktif nya tidak seberapa sekarang).
Mari kita lihat kertas Anda yang kedua setelah Anda melakukan apa yang saya minta.

HARTA PRODUKTIF HARTA KONSUMTIF
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
Reksadana Pendapatan Tetap (dari
Trimegah)
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Tabungan di BCA (untuk belanja)

Hitunglah jumlah pos di kolom sebelah kanan dan di kolom sebelah kiri. Betul, di
kolom sebelah kanan ada 20 pos, di sebelah kiri hanya tiga pos.

Pada seminar yang saya bawakan, saya sering melakukan permainan di atas dan
menemukan perbandingan 3:20 adalah perbandingan yang sangat biasa. Perbandingan
tersebut kadang-kadang bisa jadi 2:20 atau 1:20. Jangan kaget kalau perbandingan
tadi kadang-kadang bisa 0:20 alias orang tersebut tidak pernah menabung.

Berapa tahun sih Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan; 5 tahun? 10 tahun?
Atau mungkin sudah 15 tahun? Gila, 15 tahun bekerja, tapi sampai sekarang harta
produktif Anda baru 2-3 pos.

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli barang yang termasuk harta konsumtif. Bahkan, kalau Anda perhatikan, setiap tanggal muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barangndi rumahnya, entah itu betulbetul diperlukan atau tidak. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah berusaha memiliki harta produktif.

Mungkin Anda berkata, “Iya sih, harta produktif saya cuma tiga, sementara harta
konsumtif saya ada 20. Tapi, dari tiga yang produktif itu kan besar-besar angkanya.” Benarkah angkanya memang besar? Kalau benar syukuur… Jangan lupa bahwa kita tidak berbicara angka di sini, tapi berbicara tentang jumlah pos Harta produktif yang Anda punya. Nah, dengan perbandingan jumlah pos yang sangat berbeda, saya ingin menunjukkan bahwa secara tidak sadar alam bawah sadar kita selalu dipenuhi keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak produktif. Buktinya, Harta Konsumtif Anda jauh lebih bervariasi daripada Harta Produktif.

“Tapi kan Harta Konsumtif saya berguna,” kata Anda. “Teve, radio tape, kan ada
gunanya … Teve saya tonton, radio tape saya dengar.”

Betul, ada gunanya, karena itu disebut konsumtif.

Pertanyaannya sekarang, apakah Anda tidak boleh mempunyai barang konsumtif?
Apakah Anda tidak boleh mempunyai teve, radio tape, komputer, busana atau barangbarang konsumtif lainnya? Atau bahkan apakah Anda tidak boleh bermimpi untuk mempunyai handphone tipe terbaru yang diiklankan di teve? Boleh-boleh saja, tapi jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau gaji Anda berhenti, Anda bisa tetap mempunyai penghasilan dari Harta Produktif.

Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin …

Harta yang Bisa Memberikan Penghasilan

Seperti sudah saya utarakan, yang harus Anda lakukan adalah memiliki sebanyak
mungkin Harta Produktif. Bahkan, inilah langkah pertama yang harus Anda lakukan
setelah mendapatkan gaji: menyisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.

Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong Harta Produktif kalau Anda memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil, biarpun pada saat ini bunganya kecil.

Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif atau harta yang bisa
memberikan penghasilan untuk Anda? Prinsipnya, hanya ada empat kelompok besar
Harta produktif yang bisa Anda miliki. Kita bisa lihat dibawah ini:

a. Produk Investasi
b. Bisnis
c. Harta yang Disewakan
d. Barang Ciptaan
a. Produk Investasi
Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan
kepada Anda, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak akan berkurang.
Contohnya, deposito di bank. Deposito adalah produk dimana Anda menaruh uang
di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo Anda akan
mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang Anda taruh di bank akan dikembalikan. Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito uang Anda “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan pada tabungan uang Anda tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai tempat menyimpan. Bila ada rekrening tabungan yang Anda perlakukan seperti ini, Anda harus menggolongkannya ke dalam Harta Konsumtif.

“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”

Selain Produk Investasi Pendapatan Tetap, jenis produk investasi kedua adalah produk investasi yang memberikan keuntungan dari pertumbuhan, di mana penghasilan yang Anda dapatkan bukan berasal dari bunga, tapi dari pertumbuhan nilainya. Artinya, penghasilan yang Anda peroleh dari harta tersebut baru bisa Anda dapatkan kalau Anda menjualnya. Jadi, penghasilan yang Anda dapatkan cuma sekali. Contohnya reksadana, emas, saham, tanah, produk-produk investasi yang sifatnya jual beli.

Nah, menariknya, banyak orang yang merasa bahwa Harta Produktif hanya bisa dimiliki dengan modal besar. Nggak jugalah! Beberapa produk reksadana pada saat ini sudah bisa dimiliki dengan modal awal hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah. Deposito bisa dimiliki dengan investasi awal yang hanya beberapa juta rupiah. Koin emas juga bisa dimiliki dengan nilai awal 5 gram. Kalau gaji Anda terbatas, nggak selalu harus mahal ‘kan untuk bisa memiliki Harta Produktif?

b. Bisnis
Banyak orang menyisihkan gaji setiap bulan untuk dijadikan modal bisnis. Tidak
semua bisnis memerlukan modal besar. Beberapa orang yang datang ke seminar saya malah mengaku tidak membutuhkan modal besar ketika memulai bisnis.
Bisnis yang bergerak di bidang jasa sering kali tidak membutuhkan modal besar, kecuali untuk sejumlah peralatan kantor sederhana yang bisa dibeli dengan menyisihkan sebagian kecil dari gaji Anda selama enam bulan gaji.

Bisnis adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda miliki. Masalahnya sekarang, ada banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal bisnis, tapi masih saja takut memulai. Saran saya sederhana: mulai saja. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan kecuali Anda memulainya.

Anda mempunyai kendala waktu? Ya, jangan lakukan saat jam kerja. Banyak orang bisa memulai bisnis dengan berpartner atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang menjalankan bisnisnya, sementara orang yang mempunyai modal bisa tetap mencurahkan waktu untuk pekerjaannya.
Sekali lagi, ini memang bukan pekerjaan gampang, tapi Anda tidak akan tahu
kalau tidak mencoba.

c. Harta yang Disewakan
Sebuah Harta Konsumtif, bila Anda menyewakannya dan bisa mendapatkan uang
dari situ, maka bisa disebut Harta Produktif. Harta apa saja yang bisa Anda
sewakan? Banyak. Sebuah rumah bisa disewakan kepada keluarga muda yang belum mampu membeli rumah sendiri. Mobil Kijang Anda bisa disewakan kepada tamu hotel yang ingin melakukan perjalanan dalam kota dan membutuhkan transportasi. Motor Anda bisa disewakan secara bulanan untuk diojek. Bahkan, Anda bisa membuat gerobak nasi goreng untuk Anda sewakan secara harian kepada penjual nasi goreng.

Apa yang bisa Anda lakukan sekarang dengan gaji Anda adalah mencoba menyisihkannya sedikit demi sedikit agar dapat memiliki harta yang kelak bisa Anda sewakan. Bahkan, kalau mau, jika beberapa dari harta tersebut sudah Anda miliki di rumah dan kebetulan tidak terlalu sering dipakai, Anda bisa menyewakannya. Contoh paling mudah adalah motor yang bisa diojekkan atau komputer di rumah bisa juga Anda jadikan bagian dari usaha rental computer Anda.

d. Barang Ciptaan
Barang Ciptaan adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda buat sendiri.
Banyak orang bisa membuat sesuatu, memproduksinya secara massal (entah

dengan modal sendiri atau modal orang lain), menjualnya dan mendapatkan royalti. Royalti adalah penghasilan yang umumnya diterima terus-menerus dari penjualan barang atau sesuatu yang sifatnya ciptaan.
Contoh sederhana Barang Ciptaan adalah Tulisan yang sedang Anda baca sekarang.
Saya menulis Tulisan ini selama beberapa minggu, kemudian saya datang ke penerbit. Penerbitlah yang akan memproduksinya secara massal dengan uang mereka. Sebagai pengarang, saya akan menerima royalti yang besarnya sekian persen dari setiap Tulisan yang terjual. Artinya, begitu Anda membeli Tulisan ini, Anda sudah memberikan royalti kepada saya.

Contoh lain adalah album lagu; seseorang bisa merekam suaranya, mengirimkan
rekaman tersebut ke perusahaan rekaman, dan -kalau mereka suka-rekaman lagu
Anda akan diproduksi secara massal.

Saatnya Anda berpikir dan menciptakan sendiri Barang Ciptaan yang tepat untuk
Anda. Prinsip-prinsipnya, Barang Ciptaan umumnya dibuat dengan keahlian
tertentu dan biasanya hanya membutuhkan sedikit dari gaji Anda tiap bulan.
Ketika saya membuat Tulisan ini, misalnya, saya membutuhkan komputer yang
pembeliannya dari gaji saya.

Iklan

Read Full Post »

Tips bekerja effektif

1. Orang yang bekerja effektif akan mengerti bahwa melakukan pekerjaan yang tepat mempunyai arti yang lebih penting dari pada mengerjakan pekerjaan dengan baik.

2. Orang yang effektif tidak pernah meremehkan pentingnya menikmati masa kini. Sementara mereka berorientasi ke masa depan,mereka juga tetap memiliki pikiran sehat untuk menyadari bahwa tidak asa hubungan dari bagian – bagian yang ada antara menikmati hari ini dengan membentuk esok yang lebih baik. Kedua gagasan tersebut dilihat oleh mereka sebagai saling melengkapi.

3. Banyak pesan – pesan dogmatis yang telah kita pelajari berbicara mengenai cara bekerja yang terbaik, yang mana hanya merupakan sebagai dari kebenaran. Bila seorang yang berhasil dalam pekerjaannya mengatakan kepada anda tentang bagaimana kerasnya mereka bekerja, sadarilah bahwa jarang sekali seseorang menanyakan seberapa keras ia telah bekerja kepada mereka yang sedang mengalami kegagalan. Kerja keras, semua kegiatan,kefektifan penggunaan waktu serta tekanan kerja, tidak pernah dikaitkan dengan penyelesaian suatu pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang dapat diramalkan.

4. Orang yang efektif nampak hidup secara bebas, penuh pesona tetapi dasarnya mereka itu, seperti halnya orang lain, menghadapi bagian persoalan kehidupan mereka sendiri. Perbedaan antara mereka adalah; orang –orang yang efektif menyadari bahwa banyaknya dan tingkat keparahan persoalan – persoalan yang mereka miliki adalah tidak sepenting dibandingkan pentingnya cara bagaimana menangani persoalan – persoalan tersebut.

5. Banyak dari waktu yang anda gunakan merupakan hasil kebiasaan dan kita tidak akan mengerti bagaimana kita telah menggunakan waktu itu sampai suatu saat dimana kita berusaha untuk menelitinya. Menyimpan daftar catatan waktu secara berkala dapat membantu kita mengungkapkan dan menghilangkan kebiasaan yang tidak produktif.

6. Ketentuan yang baik adalah jangan membuat jadwal lebi dari lima puluh persen darijam kerja anda. Hukum Murphy mengatakan kehancuran ada dalam pengaturan jadwal yang ketat. Bersiaplah untuk hal –hal diluar perhitungan. Jadwalkan sebagian besa tugas yang penting pada alokasi waktu yang utama, waktu dimana anda dapat melakukan pekerjaan terbaik. Setiap harinya sisihkan juga waktu untuk merenungkan tentang siapa diri anda dan apakah tujuan – tujuan anda. Carilah cara – cara untuk melipat-gandakan pemakaian waktu yang telah digunakan.

7. Effektifitas bukan merupakan akibat dari melakukan pekerjaan yang lebih banyak. Effektifitas ini merupakan hasil dari bekerja dengan lebih baik. Ketidak – mampuan untuk mengatakan tidak, merupakan pembunuhan efiktifitas yang besar.

8. Sebelum melakukan sesuatau pekerjaan apakah anda bertanya pada diri sendiri, ”Apakah ini merupakan pemakaian waktu dan energi saya yang terbaik”? Bila jawabannya ”ya”,lengkapi diri anda dengan peralatan yang layak dan selesaikan tugas tersebut. Bila jawabnya”tidak” carilah orang lain untuk melakukan tugas tersebut atau tidak dikerjakan sama sekali.

9. Kenalilah dan terimalah keterbatasan – keterbatasan anda dan bangunlah kekuatan anda. Anda akan menjadi lebih baik dari yang anda perkirakan. Terimalah diri anda tanpa syarat. Inilah kunci kedamaian pikiran dan pikiran yang damai adalah pikiran efektif.

10. Apakah anda menyadari bahwa menjadi seorang yang perfeksionis dapat melumpuhkan keefektifan. Somserset Maugham menulis: ”Hanya orang yang sedang –sedang saja yang terlalu baik.” Berusaha untuk memperoleh kesempurnaan pada umumnya memerlukan lebih banyak waktu dibanding dengan keuntungan yang diperoleh.

Bagian akhir dari tulisan ini beberapa pertanyaan yang dapat anda jawab sendiri dan jawaban tersebut dapat menjadi pedoman hidup anda:

”Berapa lama waktu yang telah anda pakai sejak anda bekerja berhari – hari dengan pengabdian diri secara mutlak guna mencapai satu tujuan?

”Sudah berapa lama sejak terakhir anda berhasil mencapai suatu tujuan yang memiliki tantangan yang besar ?”

SGT/TF

Read Full Post »

Selamat Siang teman-teman sebelumnya mohon maaf seri berikut ini baru bisa terbit karena beberapa minggu kemarin saya masih berada di Samarinda dalam rangka tugas dari Kantor..

Pekan lalu Anda telah melihat bahwa perbedaan penggunaan sistem bunga dapat mempengaruhi saldo investasi Anda pada akhir tahun, walaupun semuanya sama-sama menjanjikan bunga 12 persen per tahun. Sebabnya sederhana: karena jumlah bunga yang Anda terima juga berbeda.

Berbedanya bunga yang Anda dapat itulah yang lalu memunculkan istilah “suku bunga efektif” (effective rate). Yaitu perbandingan jumlah bunga yang Anda dapatkan pada akhir tahun, dengan jumlah uang yang Anda masukkan. Cara menghitung bunga efektif sangat mudah: bunga yang Anda terima pada akhir tahun dibagi dengan nilai nominal uang Anda pada awal tahun.

Jadi, kalau ada sebuah produk investasi yang menjanjikan suku bunga 12 persen per tahun, maka mungkin saja suku bunga efektifnya tidak 12 persen. Apa yang Anda terima pada akhir tahun mungkin lebih dari 12 persen. Dengan mengetahui suku bunga efektif, maka perbedaan yang Anda dapatkan jadi betul-betul terlihat.

Selain itu, suku bunga efektif juga memungkinkan Anda untuk mempercepat perhitungan Anda. Artinya, kalau tadi kita menggunakan contoh Rp 1.000.000 sebagai dana awal investasi Anda, maka untuk selanjutnya, kita bisa saja mengubahnya menjadi Rp 5.000.000.

Anda pun tidak perlu menghitung-hitung lagi berapa jumlah bunga yang Anda dapatkan bila menggunakan sistem bunga berbunga harian, misalnya. Anda tidak perlu menghitung bunga secara berulang-ulang sampai 365 kali. Cukup mengalikannya dengan 12,74 persen, atau kalikan Rp 5 juta tadi dengan 12,74 persen.

MAKIN DINI MAKIN BAIK

Pernah ada orang yang mengatakan bahwa konsep bunga berbunga adalah suatu penemuan terbesar dalam abad ini. Ini tidak berlebihan. Sebagai contoh kalau Anda memasukkan Rp 1.000.000 pada saat ini ke dalam deposito yang memberikan 12 persen per tahun (dengan sistem bunga berbunga tahunan), pada akhir tahun pertama saldo Anda akan menjadi Rp 1.120.000.

Pada akhir tahun kesepuluh, saldo Anda akan menjadi Rp 3.105.848. Pada akhir tahun ke-20, saldo Anda akan menjadi Rp 9.646.293. Lalu pada akhir tahun ke-100, saldo Anda akan menjadi Rp 289.002.190.

Apa yang menyebabkan saldo investasi Anda bisa menjadi begitu besar? Waktu. Semakin lama uang Anda berputar dalam sistem bunga berbunga, makin besar bunga yang Anda dapatkan. Kalau menggunakan contoh bola salju tadi, maka semakin tinggi puncak gunung salju, maka semakin besar pula bola salju itu nantinya ketika sampai di dasar gunung. Ini karena semakin tinggi gunung salju itu, semakin banyak pula perputaran bola salju itu sebelum ia sampai di dasar gunung. Artinya, semakin panjang jangka waktu investasi Anda, maka semakin besar pula saldo investasi Anda kelak.

Kebanyakan investasi meng-gunakan sistem perhitungan bunga berbunga. Sebagai contoh, kalau Anda membeli rumah yang saat ini baru bernilai Rp 100 juta, maka pada akhir tahun, katakan saja rumah itu sudah menjadi senilai Rp 120 juta (ada penambahan nilai 20 persen). Pada akhir tahun kedua, nilai rumah Anda mungkin sudah menjadi Rp 120 juta dikali 20 persen. Begitu seterusnya, walaupun sampai 100 tahun sekalipun. Konsep ini sama untuk hampir semua produk investasi.

Apa hubungan ini semua dengan Anda? Bila Anda menabung untuk tujuan tertentu kelak, maka semakin dini Anda mulai, maka semakin panjang pula jangka waktu investasi Anda, sehingga ini akan makin baik untuk Anda.

BEDA KECIL BERARTI BESAR

Perlu pula disadari perbedaan suku bunga (antar-bank) yang kecil sekalipun bisa berbeda jauh pengaruhnya terhadap saldo investasi Anda. Sebagai contoh, misalkan saja pada saat ini Anda punya Rp 2 juta. Anda lantas membuka deposito 12 bulan pada dua bank, Bank A dan Bank B. Masing-masing Rp 1 juta.

Katakan saja, suku bunga di Bank A adalah 9 persen per tahun, sedangkan di Bank B adalah 10 persen per tahun (bedanya 1 persen saja). Artinya, pada akhir tahun pertama, Bank A akan memberikan bunga Rp 100 ribu, dan Bank B hanya Rp 90 ribu. Bedanya Rp 10 ribu. Kecil? Memang.

Tapi bila dilihat secara jangka panjang, perbedaan saldo investasi pada kedua deposito itu akan sangat besar. Makin lama waktunya, makin besar perbedaan itu. Pada akhir tahun ke-20, misalnya, saldo Anda di Bank A sudah Rp 5.604.411 dan Bank B Rp 6.727.500. Berarti ada perbedaan Rp 1.123.089.

Pada akhir tahun-50, saldo di Bank A adalah Rp 74.357.520, sedangkan di Bank B mencapai Rp 117.390.853. Jadi perbedaan saldo di kedua bank adalah Rp 43.033.333. Besar sekali!

PADUKAN WAKTU DAN FREKUENSI

Contoh-contoh di atas mengandaikan Anda melakukan investasi sekali saja (lump sum), di mana Anda memasukkan uang sekali saja, dan mendiamkannya selama bertahun-tahun, sampai 50 atau 100 tahun.

Tapi bagaimana kalau Anda tidak melakukan investasi sekali saja, tapi rutin setiap tahun? Misalkan saja setiap awal tahun Anda menyetorkan Rp 1 juta. Setelah 50 tahun, jumlah yang Anda setorkan menjadi Rp 50 juta. Tapi karena Anda memasukkannya dalam investasi bunga berbunga, maka saldo investasi Anda setelah 50 tahun menjadi Rp 2.688.020.438!

Besar sekali! Padahal, jumlah total yang Anda setorkan selama 50 tahun itu hanya Rp 50 juta. Coba Anda bandingkan dengan investasi sekali saja (Rp 1 juta), dan hasil yang Anda dapatkan setelah 50 tahun adalah Rp 289 juta.

Karena itu perpaduan antara frekuensi investasi yang rutin dengan panjangnya jangka waktu investasi yang Anda miliki, akan menghasilkan saldo investasi yang betul-betul dahsyat besarnya. Jadi, bagaimana? Masih mau menunda berinvestasi?

BISA PERIODIK ATAU SEKALI SAJA

Bila Anda melakukan investasi, maka ada dua pilihan, bisa melakukan secara periodik, atau sekali saja. Untuk investasi secara periodik, Anda bisa melakukan investasi setahun sekali, enam bulan sekali, atau bahkan sebulan sekali. Beberapa orang ada yang berinvestasi setiap satu atau dua minggu sekali. Tapi yang penting di sini adalah bahwa yang dimaksud dengan periodik adalah melakukan investasi secara rutin.

Biasanya, berinvestasi secara periodik merupakan cara yang paling ampuh untuk mengejar target dana yang besar kelak. Anda tak perlu memiliki jumlah dana yang besar pada saat ini, tapi cukup menyisihkan sebagian kecil penghasilan Anda untuk diinvestasikan ke dalam sebuah produk investasi. Lama kelamaan, Anda akan memiliki saldo investasi yang begitu besar, karena Anda juga mendapatkan bunga.

Berinvestasi secara periodik sama seperti seorang tukang bangunan yang sedang membuat dinding. Apa yang ia lakukan adalah mengambil sebuah bata, mengoleskannya dengan semen, lalu menempelkannya. Ambil lagi sebuah bata, memberikan semen, dan menempelkannya disebelah kiri atau kanan bata yang tadi. Begitu seterusnya sampai ia bisa menyelesaikan satu lapis. Setelah itu, ia akan melanjutkannya dengan lapis kedua. Lapis kedua selesai, dilanjutkan dengan lapis ketiga. Begitu seterusnya.

Lama kelamaan, Anda akan melihat sebuah dinding. Persis seperti itulah gambarannya bila Anda berinvestasi secara periodik. Hanya bedanya, dengan berinvestasi, Anda juga mendapatkan bunga. Sementara tukang bangunan tadi, tidak mendapatkan ‘bunga’. Yang ia lakukan hanyalah seperti menabung ke dalam celengan saja secara rutin. Tetapi prinsipnya sama saja: sedikit-sedikit, akan menjadi bukit.

Anda juga bisa berinvestasi sekali saja (lump sum). Artinya, Anda cukup memasukkan uang sekali saja ke dalam sebuah produk investasi, deposito misalnya, lalu Anda diamkan selama katakanlah sepuluh tahun. Setiap tahun, Anda akan mendapatkan bunga, yang bisa Anda tambahkan ke uang pokok Anda. Kemudian, didepositokan lagi, sehingga bunganya makin lama makin besar. Tapi, selama itu Anda tidak pernah menyentuhnya, sampai selama sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, Anda akan memiliki jumlah dana yang sangat besar.

Bersambung minggu depan…..

Read Full Post »