Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2009

Kala syaikh-syaikh di negara-negara Arab hidup dalam bergelimangan uang dan dengan mudah menghamburkan-hamburkan kekayaan mereka hanya untuk memenuhi syahwatnya seperti membeli klub sepakbola, membeli pesawat pribadi super mewah dan lain sebagainya – namun hal ini kontradiksi dengan kondisi bagi umat Islam Denmark, untuk membangun sebuah masjid pun mereka tidak memiliki cukup uang.

Dari laporan yang didapat ternyata Muslim di Denmark tidak mempunyai uang yang cukup, untuk membangun masjid pertama mereka di negara itu, meskipun telah berlalu 3 tahun semenjak izin pembangunan masjid di ibukota Denmark Kopenhagen diberikan.

Abdul Hamid Hamdi, Presiden Dewan Muslim Denmark mengatakan: “Sejak kami mendapatkan izin untuk membangun masjid pertama bagi Muslim Sunni di Denmark pada tahun 2006, namun sampai saat ini kami tidak dapat membeli sebidang tanah yang akan dibangun sebuah masjid di kota Kopenhagen, karena keterbatasan dana yang kami miliki.

Hamdi menyatakan terkejut dengan “simpati yang besar dari dunia Islam selama krisis kartun Nabi saw yang terjadi di Denmark, tapi kemudian dunia Islam gagal untuk mendukung pembangunan masjid pertama bagi kaum muslimin yang telah diizinkan di Denmark,” ia kemudian menambahkan: “hal ini menjadi tantangan bagi umat Islam, dunia memandang kita sekarang, setelah melempar bola kasus kartun Denmark di pengadilan, seharusnya muslim dunia tidak mempunyai hambatan hanya untuk membiayai pembelian tanah dan pembangunan masjid itu.

Ketua Dewan Islam kotamadya Kopenhagen telah mengajukan kepada Dewan Muslim, bahwa terdapat 12 lokasi tanah di ibukota yang dapat dibangun masjid dan akhirnya dipilih dua lokasi yang paling strategis dan yang lokasinya paling dekat dengan tempat tinggal minoritas Muslim di Kopenhagen.

Tanah yang didapat telah dinegosiasikan dengan luas sekitar 5 ribu meter persegi, dengan harga sekitar 5 juta dolar, sedangkan untuk biaya membangun fasilitas Islamic Center sekitar dibutuhkan biaya sekitar 10 juta dolar. Hamdi menambahkan: “Kami melakukan tur ke negara-negara Teluk dan kami bertemu dengan para pejabat dan para donatur yang berjanji akan membantu namun sampai sejauh ini tidak ada satupun yang terealisasi.”

Saat ini, umat Islam Denmark yang melaksanakan sholat, berjumlah sekitar 200 ribu orang dari 5 juta penduduk – mereka melaksanakan ibadah sholat di dalam apartemen atau ruang-ruang kosong terbuka.(fq/imo)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tidak-cukup-dana-muslim-denmark-gagal-bangun-masjid.htm

Read Full Post »

Gubernur Jenderal Van den Bosch adalah arsitek suatu gari pertahanan yang dinamakan menurut namanya, yakni Defensieljn van den Bosch. Garis pertahanan yang kemudian dinyatakan gagal karena kurang manfaatnya itu terbentang dari ujung selatan jalan Bungur Besar di belakang stasiun Senen, memanjang ke utara. Dari ujung yang utara itu garis petahanan membelah kea rah barat melalui Sawah Besar, Krekot, Gang Ketapang, kemudian membelok kea rah selatan melalui Petojosampai sebelah barat Lapangan Monas. Dari sini gari pertahanan itu masih di teruskan lagi sampai ke Tanah Abang, membelok ke timur melalui jalan Kebon Sirih, jembatan Prapatan dan Kramat Bunder.

Di pertigaan jalan Perwira Lapangan Banteng dulu, berdiri tugu Jendral Michels, perwira Belanda yang tewas dalam perang Lombok 1849. Tugu itu sudah di gusur.

Garis pertahanan van den Bosch punya hubungan dengan Bneteng Frederik Hendrik yang terletak di tengah-tengah Wilhelmina Park, tempat berdirinya masjid Istiqlal sekarang. Benteng Frederik Hendrik dibangun 1834, juga oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch. Kabarnya benteng tua yang sudah lama di bongkar ini ada terowongan menuju Pasar Ikan. Bayangkan betapa panjangnya terowongan ini. Di aatas benteng Frederik Hendrik dipasang sebuah loceng besar. Lonceng yang meski sudah tua tetapi berjalan baik itu berada di bawah penilikan toko arloji milik orang belanda di Rijswijk. “Van Arken” nama toko itu.

Pintu Air di depan Wilhelmina Park (Istiqlal)

Di jaman penjajahan Belanda benteng Frederik Hendrik saing dan malam selalu di jaga tentara. Dari benteng ini tiap pukul 05.00 dan 20.00 selalu terdengar bunyi meriam. Maksud tembakan itu hanya sebagai tanda yang di tujukan bagi kalangan tentara saja.

monumen yang menandakan pahitnya perang Aceh bagi Belanda ini berdiri di Wilhelmina Park (Istiqlal)

Sumber: http://www.meriam-sijagur.com/index.php/benteng-bawah-tanah.html

Read Full Post »

Pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari, yang diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Tangerang dan Pengadilan Tinggi (PT) Banten dalam kasus perdata pencemaran nama baik RS Omni Internasional, secara resmi ditutup pukul 21.00 tadi malam (14/12).
Penghitungan koin kemarin dimulai pukul 09.00. Hingga pukul 21.27, para relawan menghitung jumlah koin mencapai Rp 416.001.500. Tetapi, aktivitas penghitungan belum selesai. Kalau dijumlah dengan sumbangan sebelumnya, dana sumbangan untuk Prita mencapai lebih dari setengah miliar rupiah (Rp 500 juta). Sebelumnya, mantan Men teri Perindustrian (Menperind) Fah mi Idris menyumbang separo dari kerugian material dan immaterial yang ditetapkan PT Banten, yakni Rp 102 juta. Lantas, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menyumbang Rp 50 juta. Jadi, total dana sumbangan untuk Prita sudah mencapai Rp 568 juta.

Jumlah sumbangan akan terus bertambah. Sebab, penghitungan beberapa karung koin belum selesai. Begitu pula sumbangan koin dari daerah-daerah. ”Belum semua sampai kepada kami,” kata Yusro Muhammad Santoso, salah seorang relawan Koin untuk Prita, di markas penghitungan di Jalan Langsat 1/3a, Kramat Pela, Jakarta Selatan.

Kamis lusa (17/12) Yusro berharap agar penghitungan seluruh karung rampung. Lalu, uang itu akan diserahkan secara simbolis pada 20 Desember bertepatan dengan Hari Kesetiakawanan Sosial. Rencananya, akan ada konser akbar yang diselenggarakan sebuah majalah musik. ”Saat itu, secara simbolis uang koin akan diserahkan kepada Ibu Prita,” tutur Yusro.

Namun, para relawan malah menghadapi kesulitan baru. Me reka sulit mencari bank yang mau menerima uang receh itu. Fa silitator relawan Didi Nugrahadi me ngatakan, uang itu akan di se rahkan kepada Prita dalam bentuk rekening. Sebab, RS Om ni men cabut gugatannya.

Namun, hingga tadi malam, belum ada bank yang mau menerima. Didi sudah mendekati tiga bank besar nasional. Tetapi, me reka kompak menolak. ”Tidak perlu saya sebut nama banknya. Mereka beralasan tidak mau dianggap berpihak pada gerakan sosial tertentu,” jelasnya.
Pengacara RS Omni Internasional kemarin (14/12) secara resmi mengajukan pencabutan gugatan perdata atas Prita Mulyasari. Itu berarti Prita dipastikan tidak perlu lagi membayar denda Rp 204 juta sesuai dengan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Banten. Syaratnya, Prita mau menyepakati akta perdamaian. ”Pencabutan gugatan perdata ini realisasi keinginan rumah sakit untuk berdamai,” kata Risna Situmorang, pengacara RS Omni.

sumber: http://ruanghati.com/2009/12/15/koin-peduli-prita-sudah-menyerupai-gudang-uang-paman-gober-rp-500-jutalebih/

Read Full Post »

Older Posts »