Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Perencanaan keuangan’ Category

Apakah anda seorang karyawan atau pegawai yang sibuk diluar rumah tetapi ingin memiliki usaha sampingan dirumah?

Terbatas oleh Jam kerja dan padatnya pekerjaan kadang menjadi kendala bagi anda.

Usaha sampingan adalah pilihan yang tepat. Usaha sampingan dirumah relatif lebih mudah terkontrol, apalagi jika ada anggota keluarga yang tinggal dirumah.

Nah, bagaimana memilih jenis yang tepat diantara banyaknya jenis usaha?
Hal pertama dan yang paling utama yang harus menjadi pertimbangan adalah, anda harus menyukai bidang usaha tersebut.

Jika anda menyukai bidang usaha tersebut, maka anda akan lebih tahan terhadap segala macam kendala yang mungkin akan anda temui.

Ingat, memiliki usaha berarti akan menambah beban pikiran, apalagi untuk usaha yang tergolong baru dibuka.

Kalau anda tidak terlalu menyukai bidang usaha yang akan anda jalankan itu, maka masalah sedikit akan dapat membuat anda menyerah dan segera menutup bisnis anda.

Usahakan anda menguasai bidang usaha tersebut.

Untuk anda yang sibuk, memiliki bisnis dirumah berarti harus menyerahkan bisnis ke tangan orang lain.
Kalau anda menguasai bidang usaha yang akan anda jalankan, tentunya anda akan memperkecil kemungkinan anda ditipu orang kepercayaan anda.

Menyerahkan pengelolaan pada anggota keluarga mungkin adalah pilihan yang bagus.
Meskipun begitu usahakan anda tetap berlaku profesional terhadap keluarga anda. Buat sistem kontrol yang rapi, pencatatan juga harus sedetail mungkin.

Anda memilih usaha dirumah, pastikan pasar untuk bisnis anda cukup.

Misal, anda tidak mungkin membuka showroom mobil mewah di pedesaan kan?

Kenali daerah sekitar anda, minta pendapat ke beberapa orang disekitar anda harus anda lakukan untuk mengetahui kondisi pasar di daerah anda.

sumber : http://www.dewirayu.blogspot.com/2012/10/memilih-usaha-sampingan-dirumah-untuk.html

Read Full Post »

Selamat siang teman-teman kembali ke pelajaran investasi saat ini kita akan membahas trik/cara mengembangkan uang yang sudah kita kumpulkan untuk minggu kemarin teman-teman sudah mengetahui cara kerja bunga bank saat ini kita mempelajari yang namanya investasi untuk harta produktif

Beli dan Miliki Sebanyak
Mungkin Harta Produktif

Oke, saya tidak suka berbasa-basi, kita langsung saja masuk ke Kiat Nomor 1 dalam mengelola gaji Anda sebagai seorang karyawan. Anggap saja Anda memutuskan membaca Tulisan ini di rumah. Anda duduk di sofa yang nyaman di depan teve, menyilangkan kaki Anda di atas kursi sambil mulai membaca. Di samping Anda tersedia segelas minuman yang siap memuaskan dahaga Anda. Sekarang, saya minta Anda menaruh sebentar Tulisan Anda, dan melihat ke sekeliling selama 10 detik.

Sudah?

Jika belum, sekali lagi, taruh sebentar Tulisan ini di pangkuan Anda, lalu lihat ke sekeliling Anda. Saya hanya minta waktu Anda 10 detik untuk melakukannya.

Sudah Anda lakukan?

Oke.

Pertanyaan saya sederhana, barang-barang apa saja yang Anda lihat di depan mata
Anda selama 10 detik tadi?

Mungkin Anda mulai berpikir: sebuah teve, radio tape, perabot rumah, hiasan dinding, meja makan, dan seterusnya.
Daripada Anda sekadar melihat ke sekeliling selama 10 detik, bagaimana kalau saya minta Anda melakukan satu hal sederhana berikut: ambil kertas kosong dan pulpen. Tuliskan barang-barang yang sudah Anda milik di rumah.

Contoh:

teve,
radio tape,
perabot rumah,
hiasan dinding,
meja makan,
dan sebagainya.
Tulislah sekarang! Sebanyak mungkin. Saya beri waktu 10 menit.

Di bagian atas kertas tersebut, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

“Apa yang Sudah Saya Kumpulkan Sampai Saat Ini”

Agak ke bawah, tuliskan:

a. Harta di rumah
Kalau sudah, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Di bawahnya, saya minta Anda menulis seperti ini:

b. Harta tetap
Lalu, di bawahnya tulis:
Rumah (kalau memang rumah yang Anda tempati sekarang adalah rumah
sendiri, bukan mengontrak)
Mobil atau motor (kalau Anda memang memilikinya). Jangan lupa tulis
mereknya.

Sekarang, di kertas Anda mungkin akan tertulis seperti pada dibawah ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI

a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Sekarang, di bawahnya, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

c. Harta di Bank
Lalu, di bawahnya tulis:
Tabungan (sebutkan banknya)
Deposito (sebutkan banknya)

Setelah itu, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang

c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri

d. Harta Lain
Di bawahnya, tuliskan harta lain yang Anda miliki kalau memang ada seperti
reksadana, koin emas, dan lain-lain.

Sekarang, di kertas Anda akan tertulis seperti ini.

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
d. Harta Lain
Reksadana Pendapatan Tetap (dari Trimegah)
Jangan lupa, kalau Anda mempunyai harta lain seperti tanah atau produk-produk
invesatsi lain, tulis juga. Kalau Anda memiliki bisnis, jangan lupa tulis juga di bagian Harta Lain itu.

Sekarang, saya minta Anda mengambil kertas baru, dan bagi kertas tersebut menjadi dua kolom sebagai berikut:

Dari dua kolom tersebut, di sebelah kanan atas tulis “HARTA KONSUMTIF”, dan di
kolom sebelah kiri, tulis “HARTA PRODUKTIF”.

Pindahkan daftar harta yang sudah Anda tulis tadi ke dalam kertas baru ini.

Caranya mudah, bila harta yang Anda tulis di kertas pertama tadi tidak memberikan penghasilan untuk Anda, entah penghasilan bulanan maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah kanan, di bawah tulisan “HARTA KONSUMTIF”.

Namun, bila harta tersebut memberikan penghasilan kepada Anda, entah bulanan
maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah
kiri, di bawah tulisan “HARTA PRODUKTIF”.

Sekadar catatan:

• Untuk Rumah, bila rumah tersebut Anda tempati, masukkan di kolom sebelah
kanan, di bawah Harta Konsumtif.
• Untuk Tabungan, kalau tabungan itu sering Anda ambil untuk belanja atau
keperluan konsumtif, anggap saja Harta Konsumtif. Kalau tabungan itu tidak
pernah diambil, bolehlah Anda masukkan ke Harta Produktif (biarpun
produktif nya tidak seberapa sekarang).
Mari kita lihat kertas Anda yang kedua setelah Anda melakukan apa yang saya minta.

HARTA PRODUKTIF HARTA KONSUMTIF
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
Reksadana Pendapatan Tetap (dari
Trimegah)
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Tabungan di BCA (untuk belanja)

Hitunglah jumlah pos di kolom sebelah kanan dan di kolom sebelah kiri. Betul, di
kolom sebelah kanan ada 20 pos, di sebelah kiri hanya tiga pos.

Pada seminar yang saya bawakan, saya sering melakukan permainan di atas dan
menemukan perbandingan 3:20 adalah perbandingan yang sangat biasa. Perbandingan
tersebut kadang-kadang bisa jadi 2:20 atau 1:20. Jangan kaget kalau perbandingan
tadi kadang-kadang bisa 0:20 alias orang tersebut tidak pernah menabung.

Berapa tahun sih Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan; 5 tahun? 10 tahun?
Atau mungkin sudah 15 tahun? Gila, 15 tahun bekerja, tapi sampai sekarang harta
produktif Anda baru 2-3 pos.

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli barang yang termasuk harta konsumtif. Bahkan, kalau Anda perhatikan, setiap tanggal muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barangndi rumahnya, entah itu betulbetul diperlukan atau tidak. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah berusaha memiliki harta produktif.

Mungkin Anda berkata, “Iya sih, harta produktif saya cuma tiga, sementara harta
konsumtif saya ada 20. Tapi, dari tiga yang produktif itu kan besar-besar angkanya.” Benarkah angkanya memang besar? Kalau benar syukuur… Jangan lupa bahwa kita tidak berbicara angka di sini, tapi berbicara tentang jumlah pos Harta produktif yang Anda punya. Nah, dengan perbandingan jumlah pos yang sangat berbeda, saya ingin menunjukkan bahwa secara tidak sadar alam bawah sadar kita selalu dipenuhi keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak produktif. Buktinya, Harta Konsumtif Anda jauh lebih bervariasi daripada Harta Produktif.

“Tapi kan Harta Konsumtif saya berguna,” kata Anda. “Teve, radio tape, kan ada
gunanya … Teve saya tonton, radio tape saya dengar.”

Betul, ada gunanya, karena itu disebut konsumtif.

Pertanyaannya sekarang, apakah Anda tidak boleh mempunyai barang konsumtif?
Apakah Anda tidak boleh mempunyai teve, radio tape, komputer, busana atau barangbarang konsumtif lainnya? Atau bahkan apakah Anda tidak boleh bermimpi untuk mempunyai handphone tipe terbaru yang diiklankan di teve? Boleh-boleh saja, tapi jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau gaji Anda berhenti, Anda bisa tetap mempunyai penghasilan dari Harta Produktif.

Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin …

Harta yang Bisa Memberikan Penghasilan

Seperti sudah saya utarakan, yang harus Anda lakukan adalah memiliki sebanyak
mungkin Harta Produktif. Bahkan, inilah langkah pertama yang harus Anda lakukan
setelah mendapatkan gaji: menyisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.

Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong Harta Produktif kalau Anda memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil, biarpun pada saat ini bunganya kecil.

Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif atau harta yang bisa
memberikan penghasilan untuk Anda? Prinsipnya, hanya ada empat kelompok besar
Harta produktif yang bisa Anda miliki. Kita bisa lihat dibawah ini:

a. Produk Investasi
b. Bisnis
c. Harta yang Disewakan
d. Barang Ciptaan
a. Produk Investasi
Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan
kepada Anda, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak akan berkurang.
Contohnya, deposito di bank. Deposito adalah produk dimana Anda menaruh uang
di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo Anda akan
mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang Anda taruh di bank akan dikembalikan. Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito uang Anda “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan pada tabungan uang Anda tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai tempat menyimpan. Bila ada rekrening tabungan yang Anda perlakukan seperti ini, Anda harus menggolongkannya ke dalam Harta Konsumtif.

“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”

Selain Produk Investasi Pendapatan Tetap, jenis produk investasi kedua adalah produk investasi yang memberikan keuntungan dari pertumbuhan, di mana penghasilan yang Anda dapatkan bukan berasal dari bunga, tapi dari pertumbuhan nilainya. Artinya, penghasilan yang Anda peroleh dari harta tersebut baru bisa Anda dapatkan kalau Anda menjualnya. Jadi, penghasilan yang Anda dapatkan cuma sekali. Contohnya reksadana, emas, saham, tanah, produk-produk investasi yang sifatnya jual beli.

Nah, menariknya, banyak orang yang merasa bahwa Harta Produktif hanya bisa dimiliki dengan modal besar. Nggak jugalah! Beberapa produk reksadana pada saat ini sudah bisa dimiliki dengan modal awal hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah. Deposito bisa dimiliki dengan investasi awal yang hanya beberapa juta rupiah. Koin emas juga bisa dimiliki dengan nilai awal 5 gram. Kalau gaji Anda terbatas, nggak selalu harus mahal ‘kan untuk bisa memiliki Harta Produktif?

b. Bisnis
Banyak orang menyisihkan gaji setiap bulan untuk dijadikan modal bisnis. Tidak
semua bisnis memerlukan modal besar. Beberapa orang yang datang ke seminar saya malah mengaku tidak membutuhkan modal besar ketika memulai bisnis.
Bisnis yang bergerak di bidang jasa sering kali tidak membutuhkan modal besar, kecuali untuk sejumlah peralatan kantor sederhana yang bisa dibeli dengan menyisihkan sebagian kecil dari gaji Anda selama enam bulan gaji.

Bisnis adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda miliki. Masalahnya sekarang, ada banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal bisnis, tapi masih saja takut memulai. Saran saya sederhana: mulai saja. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan kecuali Anda memulainya.

Anda mempunyai kendala waktu? Ya, jangan lakukan saat jam kerja. Banyak orang bisa memulai bisnis dengan berpartner atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang menjalankan bisnisnya, sementara orang yang mempunyai modal bisa tetap mencurahkan waktu untuk pekerjaannya.
Sekali lagi, ini memang bukan pekerjaan gampang, tapi Anda tidak akan tahu
kalau tidak mencoba.

c. Harta yang Disewakan
Sebuah Harta Konsumtif, bila Anda menyewakannya dan bisa mendapatkan uang
dari situ, maka bisa disebut Harta Produktif. Harta apa saja yang bisa Anda
sewakan? Banyak. Sebuah rumah bisa disewakan kepada keluarga muda yang belum mampu membeli rumah sendiri. Mobil Kijang Anda bisa disewakan kepada tamu hotel yang ingin melakukan perjalanan dalam kota dan membutuhkan transportasi. Motor Anda bisa disewakan secara bulanan untuk diojek. Bahkan, Anda bisa membuat gerobak nasi goreng untuk Anda sewakan secara harian kepada penjual nasi goreng.

Apa yang bisa Anda lakukan sekarang dengan gaji Anda adalah mencoba menyisihkannya sedikit demi sedikit agar dapat memiliki harta yang kelak bisa Anda sewakan. Bahkan, kalau mau, jika beberapa dari harta tersebut sudah Anda miliki di rumah dan kebetulan tidak terlalu sering dipakai, Anda bisa menyewakannya. Contoh paling mudah adalah motor yang bisa diojekkan atau komputer di rumah bisa juga Anda jadikan bagian dari usaha rental computer Anda.

d. Barang Ciptaan
Barang Ciptaan adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda buat sendiri.
Banyak orang bisa membuat sesuatu, memproduksinya secara massal (entah

dengan modal sendiri atau modal orang lain), menjualnya dan mendapatkan royalti. Royalti adalah penghasilan yang umumnya diterima terus-menerus dari penjualan barang atau sesuatu yang sifatnya ciptaan.
Contoh sederhana Barang Ciptaan adalah Tulisan yang sedang Anda baca sekarang.
Saya menulis Tulisan ini selama beberapa minggu, kemudian saya datang ke penerbit. Penerbitlah yang akan memproduksinya secara massal dengan uang mereka. Sebagai pengarang, saya akan menerima royalti yang besarnya sekian persen dari setiap Tulisan yang terjual. Artinya, begitu Anda membeli Tulisan ini, Anda sudah memberikan royalti kepada saya.

Contoh lain adalah album lagu; seseorang bisa merekam suaranya, mengirimkan
rekaman tersebut ke perusahaan rekaman, dan -kalau mereka suka-rekaman lagu
Anda akan diproduksi secara massal.

Saatnya Anda berpikir dan menciptakan sendiri Barang Ciptaan yang tepat untuk
Anda. Prinsip-prinsipnya, Barang Ciptaan umumnya dibuat dengan keahlian
tertentu dan biasanya hanya membutuhkan sedikit dari gaji Anda tiap bulan.
Ketika saya membuat Tulisan ini, misalnya, saya membutuhkan komputer yang
pembeliannya dari gaji saya.

Read Full Post »

Selamat siang teman-teman
Saat ini kita melanjutkan lagi seri pendidikan investasi seri ke VI dalam pembahasan minggu kemarin saya telah memaparkan perhitungan bunga dan keajaibannya. untuk minggu ini saya menampilkan investasi dalam bentuk lain selamat mambaca

Beli dan Miliki Sebanyak
Mungkin Harta Produktif

Oke, saya tidak suka berbasa-basi, kita langsung saja masuk ke Kiat Nomor 1 dalam mengelola gaji Anda sebagai seorang karyawan. Anggap saja Anda memutuskan membaca Tulisan ini di rumah. Anda duduk di sofa yang nyaman di depan teve, menyilangkan kaki Anda di atas kursi sambil mulai membaca. Di samping Anda tersedia segelas minuman yang siap memuaskan dahaga Anda. Sekarang, saya minta Anda menaruh sebentar Tulisan Anda, dan melihat ke sekeliling selama 10 detik.

Sudah?

Jika belum, sekali lagi, taruh sebentar Tulisan ini di pangkuan Anda, lalu lihat ke sekeliling Anda. Saya hanya minta waktu Anda 10 detik untuk melakukannya.

Sudah Anda lakukan?

Oke.

Pertanyaan saya sederhana, barang-barang apa saja yang Anda lihat di depan mata
Anda selama 10 detik tadi?

Mungkin Anda mulai berpikir: sebuah teve, radio tape, perabot rumah, hiasan dinding, meja makan, dan seterusnya.
Daripada Anda sekadar melihat ke sekeliling selama 10 detik, bagaimana kalau saya minta Anda melakukan satu hal sederhana berikut: ambil kertas kosong dan pulpen. Tuliskan barang-barang yang sudah Anda milik di rumah.

Contoh:

teve,
radio tape,
perabot rumah,
hiasan dinding,
meja makan,
dan sebagainya.
Tulislah sekarang! Sebanyak mungkin. Saya beri waktu 10 menit.

Di bagian atas kertas tersebut, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

“Apa yang Sudah Saya Kumpulkan Sampai Saat Ini”

Agak ke bawah, tuliskan:

a. Harta di rumah
Kalau sudah, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Di bawahnya, saya minta Anda menulis seperti ini:

b. Harta tetap
Lalu, di bawahnya tulis:
Rumah (kalau memang rumah yang Anda tempati sekarang adalah rumah
sendiri, bukan mengontrak)
Mobil atau motor (kalau Anda memang memilikinya). Jangan lupa tulis
mereknya.

Sekarang, di kertas Anda mungkin akan tertulis seperti pada dibawah ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI

a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Sekarang, di bawahnya, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

c. Harta di Bank
Lalu, di bawahnya tulis:
Tabungan (sebutkan banknya)
Deposito (sebutkan banknya)

Setelah itu, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang

c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri

d. Harta Lain
Di bawahnya, tuliskan harta lain yang Anda miliki kalau memang ada seperti
reksadana, koin emas, dan lain-lain.

Sekarang, di kertas Anda akan tertulis seperti ini.

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
d. Harta Lain
Reksadana Pendapatan Tetap (dari Trimegah)
Jangan lupa, kalau Anda mempunyai harta lain seperti tanah atau produk-produk
invesatsi lain, tulis juga. Kalau Anda memiliki bisnis, jangan lupa tulis juga di bagian Harta Lain itu.

Sekarang, saya minta Anda mengambil kertas baru, dan bagi kertas tersebut menjadi dua kolom sebagai berikut:

Dari dua kolom tersebut, di sebelah kanan atas tulis “HARTA KONSUMTIF”, dan di
kolom sebelah kiri, tulis “HARTA PRODUKTIF”.

Pindahkan daftar harta yang sudah Anda tulis tadi ke dalam kertas baru ini.

Caranya mudah, bila harta yang Anda tulis di kertas pertama tadi tidak memberikan penghasilan untuk Anda, entah penghasilan bulanan maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah kanan, di bawah tulisan “HARTA KONSUMTIF”.

Namun, bila harta tersebut memberikan penghasilan kepada Anda, entah bulanan
maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah
kiri, di bawah tulisan “HARTA PRODUKTIF”.

Sekadar catatan:

• Untuk Rumah, bila rumah tersebut Anda tempati, masukkan di kolom sebelah
kanan, di bawah Harta Konsumtif.
• Untuk Tabungan, kalau tabungan itu sering Anda ambil untuk belanja atau
keperluan konsumtif, anggap saja Harta Konsumtif. Kalau tabungan itu tidak
pernah diambil, bolehlah Anda masukkan ke Harta Produktif (biarpun
produktif nya tidak seberapa sekarang).
Mari kita lihat kertas Anda yang kedua setelah Anda melakukan apa yang saya minta.

HARTA PRODUKTIF HARTA KONSUMTIF
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
Reksadana Pendapatan Tetap (dari
Trimegah)
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Tabungan di BCA (untuk belanja)

Hitunglah jumlah pos di kolom sebelah kanan dan di kolom sebelah kiri. Betul, di
kolom sebelah kanan ada 20 pos, di sebelah kiri hanya tiga pos.

Pada seminar yang saya bawakan, saya sering melakukan permainan di atas dan
menemukan perbandingan 3:20 adalah perbandingan yang sangat biasa. Perbandingan
tersebut kadang-kadang bisa jadi 2:20 atau 1:20. Jangan kaget kalau perbandingan
tadi kadang-kadang bisa 0:20 alias orang tersebut tidak pernah menabung.

Berapa tahun sih Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan; 5 tahun? 10 tahun?
Atau mungkin sudah 15 tahun? Gila, 15 tahun bekerja, tapi sampai sekarang harta
produktif Anda baru 2-3 pos.

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli barang yang termasuk harta konsumtif. Bahkan, kalau Anda perhatikan, setiap tanggal muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barangndi rumahnya, entah itu betulbetul diperlukan atau tidak. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah berusaha memiliki harta produktif.

Mungkin Anda berkata, “Iya sih, harta produktif saya cuma tiga, sementara harta
konsumtif saya ada 20. Tapi, dari tiga yang produktif itu kan besar-besar angkanya.” Benarkah angkanya memang besar? Kalau benar syukuur… Jangan lupa bahwa kita tidak berbicara angka di sini, tapi berbicara tentang jumlah pos Harta produktif yang Anda punya. Nah, dengan perbandingan jumlah pos yang sangat berbeda, saya ingin menunjukkan bahwa secara tidak sadar alam bawah sadar kita selalu dipenuhi keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak produktif. Buktinya, Harta Konsumtif Anda jauh lebih bervariasi daripada Harta Produktif.

“Tapi kan Harta Konsumtif saya berguna,” kata Anda. “Teve, radio tape, kan ada
gunanya … Teve saya tonton, radio tape saya dengar.”

Betul, ada gunanya, karena itu disebut konsumtif.

Pertanyaannya sekarang, apakah Anda tidak boleh mempunyai barang konsumtif?
Apakah Anda tidak boleh mempunyai teve, radio tape, komputer, busana atau barangbarang konsumtif lainnya? Atau bahkan apakah Anda tidak boleh bermimpi untuk mempunyai handphone tipe terbaru yang diiklankan di teve? Boleh-boleh saja, tapi jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau gaji Anda berhenti, Anda bisa tetap mempunyai penghasilan dari Harta Produktif.

Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin …

Harta yang Bisa Memberikan Penghasilan

Seperti sudah saya utarakan, yang harus Anda lakukan adalah memiliki sebanyak
mungkin Harta Produktif. Bahkan, inilah langkah pertama yang harus Anda lakukan
setelah mendapatkan gaji: menyisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.

Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong Harta Produktif kalau Anda memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil, biarpun pada saat ini bunganya kecil.

Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif atau harta yang bisa
memberikan penghasilan untuk Anda? Prinsipnya, hanya ada empat kelompok besar
Harta produktif yang bisa Anda miliki. Kita bisa lihat dibawah ini:

a. Produk Investasi
b. Bisnis
c. Harta yang Disewakan
d. Barang Ciptaan
a. Produk Investasi
Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan
kepada Anda, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak akan berkurang.
Contohnya, deposito di bank. Deposito adalah produk dimana Anda menaruh uang
di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo Anda akan
mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang Anda taruh di bank akan dikembalikan. Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito uang Anda “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan pada tabungan uang Anda tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai tempat menyimpan. Bila ada rekrening tabungan yang Anda perlakukan seperti ini, Anda harus menggolongkannya ke dalam Harta Konsumtif.

“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”

Selain Produk Investasi Pendapatan Tetap, jenis produk investasi kedua adalah produk investasi yang memberikan keuntungan dari pertumbuhan, di mana penghasilan yang Anda dapatkan bukan berasal dari bunga, tapi dari pertumbuhan nilainya. Artinya, penghasilan yang Anda peroleh dari harta tersebut baru bisa Anda dapatkan kalau Anda menjualnya. Jadi, penghasilan yang Anda dapatkan cuma sekali. Contohnya reksadana, emas, saham, tanah, produk-produk investasi yang sifatnya jual beli.

Nah, menariknya, banyak orang yang merasa bahwa Harta Produktif hanya bisa dimiliki dengan modal besar. Nggak jugalah! Beberapa produk reksadana pada saat ini sudah bisa dimiliki dengan modal awal hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah. Deposito bisa dimiliki dengan investasi awal yang hanya beberapa juta rupiah. Koin emas juga bisa dimiliki dengan nilai awal 5 gram. Kalau gaji Anda terbatas, nggak selalu harus mahal ‘kan untuk bisa memiliki Harta Produktif?

b. Bisnis
Banyak orang menyisihkan gaji setiap bulan untuk dijadikan modal bisnis. Tidak
semua bisnis memerlukan modal besar. Beberapa orang yang datang ke seminar saya malah mengaku tidak membutuhkan modal besar ketika memulai bisnis.
Bisnis yang bergerak di bidang jasa sering kali tidak membutuhkan modal besar, kecuali untuk sejumlah peralatan kantor sederhana yang bisa dibeli dengan menyisihkan sebagian kecil dari gaji Anda selama enam bulan gaji.

Bisnis adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda miliki. Masalahnya sekarang, ada banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal bisnis, tapi masih saja takut memulai. Saran saya sederhana: mulai saja. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan kecuali Anda memulainya.

Anda mempunyai kendala waktu? Ya, jangan lakukan saat jam kerja. Banyak orang bisa memulai bisnis dengan berpartner atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang menjalankan bisnisnya, sementara orang yang mempunyai modal bisa tetap mencurahkan waktu untuk pekerjaannya.
Sekali lagi, ini memang bukan pekerjaan gampang, tapi Anda tidak akan tahu
kalau tidak mencoba.

c. Harta yang Disewakan
Sebuah Harta Konsumtif, bila Anda menyewakannya dan bisa mendapatkan uang
dari situ, maka bisa disebut Harta Produktif. Harta apa saja yang bisa Anda
sewakan? Banyak. Sebuah rumah bisa disewakan kepada keluarga muda yang belum mampu membeli rumah sendiri. Mobil Kijang Anda bisa disewakan kepada tamu hotel yang ingin melakukan perjalanan dalam kota dan membutuhkan transportasi. Motor Anda bisa disewakan secara bulanan untuk diojek. Bahkan, Anda bisa membuat gerobak nasi goreng untuk Anda sewakan secara harian kepada penjual nasi goreng.

Apa yang bisa Anda lakukan sekarang dengan gaji Anda adalah mencoba menyisihkannya sedikit demi sedikit agar dapat memiliki harta yang kelak bisa Anda sewakan. Bahkan, kalau mau, jika beberapa dari harta tersebut sudah Anda miliki di rumah dan kebetulan tidak terlalu sering dipakai, Anda bisa menyewakannya. Contoh paling mudah adalah motor yang bisa diojekkan atau komputer di rumah bisa juga Anda jadikan bagian dari usaha rental computer Anda.

d. Barang Ciptaan
Barang Ciptaan adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda buat sendiri.
Banyak orang bisa membuat sesuatu, memproduksinya secara massal (entah

dengan modal sendiri atau modal orang lain), menjualnya dan mendapatkan royalti. Royalti adalah penghasilan yang umumnya diterima terus-menerus dari penjualan barang atau sesuatu yang sifatnya ciptaan.
Contoh sederhana Barang Ciptaan adalah Tulisan yang sedang Anda baca sekarang.
Saya menulis Tulisan ini selama beberapa minggu, kemudian saya datang ke penerbit. Penerbitlah yang akan memproduksinya secara massal dengan uang mereka. Sebagai pengarang, saya akan menerima royalti yang besarnya sekian persen dari setiap Tulisan yang terjual. Artinya, begitu Anda membeli Tulisan ini, Anda sudah memberikan royalti kepada saya.

Contoh lain adalah album lagu; seseorang bisa merekam suaranya, mengirimkan
rekaman tersebut ke perusahaan rekaman, dan -kalau mereka suka-rekaman lagu
Anda akan diproduksi secara massal.

Saatnya Anda berpikir dan menciptakan sendiri Barang Ciptaan yang tepat untuk
Anda. Prinsip-prinsipnya, Barang Ciptaan umumnya dibuat dengan keahlian
tertentu dan biasanya hanya membutuhkan sedikit dari gaji Anda tiap bulan.
Ketika saya membuat Tulisan ini, misalnya, saya membutuhkan komputer yang
pembeliannya dari gaji saya.

Read Full Post »

Older Posts »