Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Perencanaan keuangan’ Category

Apakah anda seorang karyawan atau pegawai yang sibuk diluar rumah tetapi ingin memiliki usaha sampingan dirumah?

Terbatas oleh Jam kerja dan padatnya pekerjaan kadang menjadi kendala bagi anda.

Usaha sampingan adalah pilihan yang tepat. Usaha sampingan dirumah relatif lebih mudah terkontrol, apalagi jika ada anggota keluarga yang tinggal dirumah.

Nah, bagaimana memilih jenis yang tepat diantara banyaknya jenis usaha?
Hal pertama dan yang paling utama yang harus menjadi pertimbangan adalah, anda harus menyukai bidang usaha tersebut.

Jika anda menyukai bidang usaha tersebut, maka anda akan lebih tahan terhadap segala macam kendala yang mungkin akan anda temui.

Ingat, memiliki usaha berarti akan menambah beban pikiran, apalagi untuk usaha yang tergolong baru dibuka.

Kalau anda tidak terlalu menyukai bidang usaha yang akan anda jalankan itu, maka masalah sedikit akan dapat membuat anda menyerah dan segera menutup bisnis anda.

Usahakan anda menguasai bidang usaha tersebut.

Untuk anda yang sibuk, memiliki bisnis dirumah berarti harus menyerahkan bisnis ke tangan orang lain.
Kalau anda menguasai bidang usaha yang akan anda jalankan, tentunya anda akan memperkecil kemungkinan anda ditipu orang kepercayaan anda.

Menyerahkan pengelolaan pada anggota keluarga mungkin adalah pilihan yang bagus.
Meskipun begitu usahakan anda tetap berlaku profesional terhadap keluarga anda. Buat sistem kontrol yang rapi, pencatatan juga harus sedetail mungkin.

Anda memilih usaha dirumah, pastikan pasar untuk bisnis anda cukup.

Misal, anda tidak mungkin membuka showroom mobil mewah di pedesaan kan?

Kenali daerah sekitar anda, minta pendapat ke beberapa orang disekitar anda harus anda lakukan untuk mengetahui kondisi pasar di daerah anda.

sumber : http://www.dewirayu.blogspot.com/2012/10/memilih-usaha-sampingan-dirumah-untuk.html

Iklan

Read Full Post »

Selamat siang teman-teman kembali ke pelajaran investasi saat ini kita akan membahas trik/cara mengembangkan uang yang sudah kita kumpulkan untuk minggu kemarin teman-teman sudah mengetahui cara kerja bunga bank saat ini kita mempelajari yang namanya investasi untuk harta produktif

Beli dan Miliki Sebanyak
Mungkin Harta Produktif

Oke, saya tidak suka berbasa-basi, kita langsung saja masuk ke Kiat Nomor 1 dalam mengelola gaji Anda sebagai seorang karyawan. Anggap saja Anda memutuskan membaca Tulisan ini di rumah. Anda duduk di sofa yang nyaman di depan teve, menyilangkan kaki Anda di atas kursi sambil mulai membaca. Di samping Anda tersedia segelas minuman yang siap memuaskan dahaga Anda. Sekarang, saya minta Anda menaruh sebentar Tulisan Anda, dan melihat ke sekeliling selama 10 detik.

Sudah?

Jika belum, sekali lagi, taruh sebentar Tulisan ini di pangkuan Anda, lalu lihat ke sekeliling Anda. Saya hanya minta waktu Anda 10 detik untuk melakukannya.

Sudah Anda lakukan?

Oke.

Pertanyaan saya sederhana, barang-barang apa saja yang Anda lihat di depan mata
Anda selama 10 detik tadi?

Mungkin Anda mulai berpikir: sebuah teve, radio tape, perabot rumah, hiasan dinding, meja makan, dan seterusnya.
Daripada Anda sekadar melihat ke sekeliling selama 10 detik, bagaimana kalau saya minta Anda melakukan satu hal sederhana berikut: ambil kertas kosong dan pulpen. Tuliskan barang-barang yang sudah Anda milik di rumah.

Contoh:

teve,
radio tape,
perabot rumah,
hiasan dinding,
meja makan,
dan sebagainya.
Tulislah sekarang! Sebanyak mungkin. Saya beri waktu 10 menit.

Di bagian atas kertas tersebut, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

“Apa yang Sudah Saya Kumpulkan Sampai Saat Ini”

Agak ke bawah, tuliskan:

a. Harta di rumah
Kalau sudah, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Di bawahnya, saya minta Anda menulis seperti ini:

b. Harta tetap
Lalu, di bawahnya tulis:
Rumah (kalau memang rumah yang Anda tempati sekarang adalah rumah
sendiri, bukan mengontrak)
Mobil atau motor (kalau Anda memang memilikinya). Jangan lupa tulis
mereknya.

Sekarang, di kertas Anda mungkin akan tertulis seperti pada dibawah ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI

a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Sekarang, di bawahnya, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

c. Harta di Bank
Lalu, di bawahnya tulis:
Tabungan (sebutkan banknya)
Deposito (sebutkan banknya)

Setelah itu, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang

c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri

d. Harta Lain
Di bawahnya, tuliskan harta lain yang Anda miliki kalau memang ada seperti
reksadana, koin emas, dan lain-lain.

Sekarang, di kertas Anda akan tertulis seperti ini.

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
d. Harta Lain
Reksadana Pendapatan Tetap (dari Trimegah)
Jangan lupa, kalau Anda mempunyai harta lain seperti tanah atau produk-produk
invesatsi lain, tulis juga. Kalau Anda memiliki bisnis, jangan lupa tulis juga di bagian Harta Lain itu.

Sekarang, saya minta Anda mengambil kertas baru, dan bagi kertas tersebut menjadi dua kolom sebagai berikut:

Dari dua kolom tersebut, di sebelah kanan atas tulis “HARTA KONSUMTIF”, dan di
kolom sebelah kiri, tulis “HARTA PRODUKTIF”.

Pindahkan daftar harta yang sudah Anda tulis tadi ke dalam kertas baru ini.

Caranya mudah, bila harta yang Anda tulis di kertas pertama tadi tidak memberikan penghasilan untuk Anda, entah penghasilan bulanan maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah kanan, di bawah tulisan “HARTA KONSUMTIF”.

Namun, bila harta tersebut memberikan penghasilan kepada Anda, entah bulanan
maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah
kiri, di bawah tulisan “HARTA PRODUKTIF”.

Sekadar catatan:

• Untuk Rumah, bila rumah tersebut Anda tempati, masukkan di kolom sebelah
kanan, di bawah Harta Konsumtif.
• Untuk Tabungan, kalau tabungan itu sering Anda ambil untuk belanja atau
keperluan konsumtif, anggap saja Harta Konsumtif. Kalau tabungan itu tidak
pernah diambil, bolehlah Anda masukkan ke Harta Produktif (biarpun
produktif nya tidak seberapa sekarang).
Mari kita lihat kertas Anda yang kedua setelah Anda melakukan apa yang saya minta.

HARTA PRODUKTIF HARTA KONSUMTIF
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
Reksadana Pendapatan Tetap (dari
Trimegah)
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Tabungan di BCA (untuk belanja)

Hitunglah jumlah pos di kolom sebelah kanan dan di kolom sebelah kiri. Betul, di
kolom sebelah kanan ada 20 pos, di sebelah kiri hanya tiga pos.

Pada seminar yang saya bawakan, saya sering melakukan permainan di atas dan
menemukan perbandingan 3:20 adalah perbandingan yang sangat biasa. Perbandingan
tersebut kadang-kadang bisa jadi 2:20 atau 1:20. Jangan kaget kalau perbandingan
tadi kadang-kadang bisa 0:20 alias orang tersebut tidak pernah menabung.

Berapa tahun sih Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan; 5 tahun? 10 tahun?
Atau mungkin sudah 15 tahun? Gila, 15 tahun bekerja, tapi sampai sekarang harta
produktif Anda baru 2-3 pos.

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli barang yang termasuk harta konsumtif. Bahkan, kalau Anda perhatikan, setiap tanggal muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barangndi rumahnya, entah itu betulbetul diperlukan atau tidak. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah berusaha memiliki harta produktif.

Mungkin Anda berkata, “Iya sih, harta produktif saya cuma tiga, sementara harta
konsumtif saya ada 20. Tapi, dari tiga yang produktif itu kan besar-besar angkanya.” Benarkah angkanya memang besar? Kalau benar syukuur… Jangan lupa bahwa kita tidak berbicara angka di sini, tapi berbicara tentang jumlah pos Harta produktif yang Anda punya. Nah, dengan perbandingan jumlah pos yang sangat berbeda, saya ingin menunjukkan bahwa secara tidak sadar alam bawah sadar kita selalu dipenuhi keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak produktif. Buktinya, Harta Konsumtif Anda jauh lebih bervariasi daripada Harta Produktif.

“Tapi kan Harta Konsumtif saya berguna,” kata Anda. “Teve, radio tape, kan ada
gunanya … Teve saya tonton, radio tape saya dengar.”

Betul, ada gunanya, karena itu disebut konsumtif.

Pertanyaannya sekarang, apakah Anda tidak boleh mempunyai barang konsumtif?
Apakah Anda tidak boleh mempunyai teve, radio tape, komputer, busana atau barangbarang konsumtif lainnya? Atau bahkan apakah Anda tidak boleh bermimpi untuk mempunyai handphone tipe terbaru yang diiklankan di teve? Boleh-boleh saja, tapi jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau gaji Anda berhenti, Anda bisa tetap mempunyai penghasilan dari Harta Produktif.

Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin …

Harta yang Bisa Memberikan Penghasilan

Seperti sudah saya utarakan, yang harus Anda lakukan adalah memiliki sebanyak
mungkin Harta Produktif. Bahkan, inilah langkah pertama yang harus Anda lakukan
setelah mendapatkan gaji: menyisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.

Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong Harta Produktif kalau Anda memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil, biarpun pada saat ini bunganya kecil.

Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif atau harta yang bisa
memberikan penghasilan untuk Anda? Prinsipnya, hanya ada empat kelompok besar
Harta produktif yang bisa Anda miliki. Kita bisa lihat dibawah ini:

a. Produk Investasi
b. Bisnis
c. Harta yang Disewakan
d. Barang Ciptaan
a. Produk Investasi
Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan
kepada Anda, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak akan berkurang.
Contohnya, deposito di bank. Deposito adalah produk dimana Anda menaruh uang
di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo Anda akan
mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang Anda taruh di bank akan dikembalikan. Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito uang Anda “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan pada tabungan uang Anda tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai tempat menyimpan. Bila ada rekrening tabungan yang Anda perlakukan seperti ini, Anda harus menggolongkannya ke dalam Harta Konsumtif.

“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”

Selain Produk Investasi Pendapatan Tetap, jenis produk investasi kedua adalah produk investasi yang memberikan keuntungan dari pertumbuhan, di mana penghasilan yang Anda dapatkan bukan berasal dari bunga, tapi dari pertumbuhan nilainya. Artinya, penghasilan yang Anda peroleh dari harta tersebut baru bisa Anda dapatkan kalau Anda menjualnya. Jadi, penghasilan yang Anda dapatkan cuma sekali. Contohnya reksadana, emas, saham, tanah, produk-produk investasi yang sifatnya jual beli.

Nah, menariknya, banyak orang yang merasa bahwa Harta Produktif hanya bisa dimiliki dengan modal besar. Nggak jugalah! Beberapa produk reksadana pada saat ini sudah bisa dimiliki dengan modal awal hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah. Deposito bisa dimiliki dengan investasi awal yang hanya beberapa juta rupiah. Koin emas juga bisa dimiliki dengan nilai awal 5 gram. Kalau gaji Anda terbatas, nggak selalu harus mahal ‘kan untuk bisa memiliki Harta Produktif?

b. Bisnis
Banyak orang menyisihkan gaji setiap bulan untuk dijadikan modal bisnis. Tidak
semua bisnis memerlukan modal besar. Beberapa orang yang datang ke seminar saya malah mengaku tidak membutuhkan modal besar ketika memulai bisnis.
Bisnis yang bergerak di bidang jasa sering kali tidak membutuhkan modal besar, kecuali untuk sejumlah peralatan kantor sederhana yang bisa dibeli dengan menyisihkan sebagian kecil dari gaji Anda selama enam bulan gaji.

Bisnis adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda miliki. Masalahnya sekarang, ada banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal bisnis, tapi masih saja takut memulai. Saran saya sederhana: mulai saja. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan kecuali Anda memulainya.

Anda mempunyai kendala waktu? Ya, jangan lakukan saat jam kerja. Banyak orang bisa memulai bisnis dengan berpartner atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang menjalankan bisnisnya, sementara orang yang mempunyai modal bisa tetap mencurahkan waktu untuk pekerjaannya.
Sekali lagi, ini memang bukan pekerjaan gampang, tapi Anda tidak akan tahu
kalau tidak mencoba.

c. Harta yang Disewakan
Sebuah Harta Konsumtif, bila Anda menyewakannya dan bisa mendapatkan uang
dari situ, maka bisa disebut Harta Produktif. Harta apa saja yang bisa Anda
sewakan? Banyak. Sebuah rumah bisa disewakan kepada keluarga muda yang belum mampu membeli rumah sendiri. Mobil Kijang Anda bisa disewakan kepada tamu hotel yang ingin melakukan perjalanan dalam kota dan membutuhkan transportasi. Motor Anda bisa disewakan secara bulanan untuk diojek. Bahkan, Anda bisa membuat gerobak nasi goreng untuk Anda sewakan secara harian kepada penjual nasi goreng.

Apa yang bisa Anda lakukan sekarang dengan gaji Anda adalah mencoba menyisihkannya sedikit demi sedikit agar dapat memiliki harta yang kelak bisa Anda sewakan. Bahkan, kalau mau, jika beberapa dari harta tersebut sudah Anda miliki di rumah dan kebetulan tidak terlalu sering dipakai, Anda bisa menyewakannya. Contoh paling mudah adalah motor yang bisa diojekkan atau komputer di rumah bisa juga Anda jadikan bagian dari usaha rental computer Anda.

d. Barang Ciptaan
Barang Ciptaan adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda buat sendiri.
Banyak orang bisa membuat sesuatu, memproduksinya secara massal (entah

dengan modal sendiri atau modal orang lain), menjualnya dan mendapatkan royalti. Royalti adalah penghasilan yang umumnya diterima terus-menerus dari penjualan barang atau sesuatu yang sifatnya ciptaan.
Contoh sederhana Barang Ciptaan adalah Tulisan yang sedang Anda baca sekarang.
Saya menulis Tulisan ini selama beberapa minggu, kemudian saya datang ke penerbit. Penerbitlah yang akan memproduksinya secara massal dengan uang mereka. Sebagai pengarang, saya akan menerima royalti yang besarnya sekian persen dari setiap Tulisan yang terjual. Artinya, begitu Anda membeli Tulisan ini, Anda sudah memberikan royalti kepada saya.

Contoh lain adalah album lagu; seseorang bisa merekam suaranya, mengirimkan
rekaman tersebut ke perusahaan rekaman, dan -kalau mereka suka-rekaman lagu
Anda akan diproduksi secara massal.

Saatnya Anda berpikir dan menciptakan sendiri Barang Ciptaan yang tepat untuk
Anda. Prinsip-prinsipnya, Barang Ciptaan umumnya dibuat dengan keahlian
tertentu dan biasanya hanya membutuhkan sedikit dari gaji Anda tiap bulan.
Ketika saya membuat Tulisan ini, misalnya, saya membutuhkan komputer yang
pembeliannya dari gaji saya.

Read Full Post »

Selamat siang teman-teman
Saat ini kita melanjutkan lagi seri pendidikan investasi seri ke VI dalam pembahasan minggu kemarin saya telah memaparkan perhitungan bunga dan keajaibannya. untuk minggu ini saya menampilkan investasi dalam bentuk lain selamat mambaca

Beli dan Miliki Sebanyak
Mungkin Harta Produktif

Oke, saya tidak suka berbasa-basi, kita langsung saja masuk ke Kiat Nomor 1 dalam mengelola gaji Anda sebagai seorang karyawan. Anggap saja Anda memutuskan membaca Tulisan ini di rumah. Anda duduk di sofa yang nyaman di depan teve, menyilangkan kaki Anda di atas kursi sambil mulai membaca. Di samping Anda tersedia segelas minuman yang siap memuaskan dahaga Anda. Sekarang, saya minta Anda menaruh sebentar Tulisan Anda, dan melihat ke sekeliling selama 10 detik.

Sudah?

Jika belum, sekali lagi, taruh sebentar Tulisan ini di pangkuan Anda, lalu lihat ke sekeliling Anda. Saya hanya minta waktu Anda 10 detik untuk melakukannya.

Sudah Anda lakukan?

Oke.

Pertanyaan saya sederhana, barang-barang apa saja yang Anda lihat di depan mata
Anda selama 10 detik tadi?

Mungkin Anda mulai berpikir: sebuah teve, radio tape, perabot rumah, hiasan dinding, meja makan, dan seterusnya.
Daripada Anda sekadar melihat ke sekeliling selama 10 detik, bagaimana kalau saya minta Anda melakukan satu hal sederhana berikut: ambil kertas kosong dan pulpen. Tuliskan barang-barang yang sudah Anda milik di rumah.

Contoh:

teve,
radio tape,
perabot rumah,
hiasan dinding,
meja makan,
dan sebagainya.
Tulislah sekarang! Sebanyak mungkin. Saya beri waktu 10 menit.

Di bagian atas kertas tersebut, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

“Apa yang Sudah Saya Kumpulkan Sampai Saat Ini”

Agak ke bawah, tuliskan:

a. Harta di rumah
Kalau sudah, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Di bawahnya, saya minta Anda menulis seperti ini:

b. Harta tetap
Lalu, di bawahnya tulis:
Rumah (kalau memang rumah yang Anda tempati sekarang adalah rumah
sendiri, bukan mengontrak)
Mobil atau motor (kalau Anda memang memilikinya). Jangan lupa tulis
mereknya.

Sekarang, di kertas Anda mungkin akan tertulis seperti pada dibawah ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI

a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Sekarang, di bawahnya, saya minta Anda menuliskan seperti ini:

c. Harta di Bank
Lalu, di bawahnya tulis:
Tabungan (sebutkan banknya)
Deposito (sebutkan banknya)

Setelah itu, mungkin di kertas Anda akan tertulis seperti ini:

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang

c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri

d. Harta Lain
Di bawahnya, tuliskan harta lain yang Anda miliki kalau memang ada seperti
reksadana, koin emas, dan lain-lain.

Sekarang, di kertas Anda akan tertulis seperti ini.

APA YANG SUDAH SAYA KUMPULKAN SAMPAI SAAT INI
a. Harta di Rumah
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
b. Harta Tetap
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
c. Harta di Bank
Tabungan di BCA
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
d. Harta Lain
Reksadana Pendapatan Tetap (dari Trimegah)
Jangan lupa, kalau Anda mempunyai harta lain seperti tanah atau produk-produk
invesatsi lain, tulis juga. Kalau Anda memiliki bisnis, jangan lupa tulis juga di bagian Harta Lain itu.

Sekarang, saya minta Anda mengambil kertas baru, dan bagi kertas tersebut menjadi dua kolom sebagai berikut:

Dari dua kolom tersebut, di sebelah kanan atas tulis “HARTA KONSUMTIF”, dan di
kolom sebelah kiri, tulis “HARTA PRODUKTIF”.

Pindahkan daftar harta yang sudah Anda tulis tadi ke dalam kertas baru ini.

Caranya mudah, bila harta yang Anda tulis di kertas pertama tadi tidak memberikan penghasilan untuk Anda, entah penghasilan bulanan maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah kanan, di bawah tulisan “HARTA KONSUMTIF”.

Namun, bila harta tersebut memberikan penghasilan kepada Anda, entah bulanan
maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi, tuliskan di kolom sebelah
kiri, di bawah tulisan “HARTA PRODUKTIF”.

Sekadar catatan:

• Untuk Rumah, bila rumah tersebut Anda tempati, masukkan di kolom sebelah
kanan, di bawah Harta Konsumtif.
• Untuk Tabungan, kalau tabungan itu sering Anda ambil untuk belanja atau
keperluan konsumtif, anggap saja Harta Konsumtif. Kalau tabungan itu tidak
pernah diambil, bolehlah Anda masukkan ke Harta Produktif (biarpun
produktif nya tidak seberapa sekarang).
Mari kita lihat kertas Anda yang kedua setelah Anda melakukan apa yang saya minta.

HARTA PRODUKTIF HARTA KONSUMTIF
Tabungan di Bank Niaga
Deposito di Bank Mandiri
Reksadana Pendapatan Tetap (dari
Trimegah)
Teve
Radio tape
Perabot rumah
Hiasan dinding (5 buah)
Meja makan
Handphone
Sofa (3 buah)
Komputer
Perangkat makan
Ranjang (4 buah)
Perhiasan
Peralatan masak
Busana (banyak sekali)
Kaset dan CD (banyak sekali)
VCD dan DVD (banyak sekali)
Setumpuk Tulisan
Rumah
Mobil Kijang
Motor Yamaha
Tabungan di BCA (untuk belanja)

Hitunglah jumlah pos di kolom sebelah kanan dan di kolom sebelah kiri. Betul, di
kolom sebelah kanan ada 20 pos, di sebelah kiri hanya tiga pos.

Pada seminar yang saya bawakan, saya sering melakukan permainan di atas dan
menemukan perbandingan 3:20 adalah perbandingan yang sangat biasa. Perbandingan
tersebut kadang-kadang bisa jadi 2:20 atau 1:20. Jangan kaget kalau perbandingan
tadi kadang-kadang bisa 0:20 alias orang tersebut tidak pernah menabung.

Berapa tahun sih Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan; 5 tahun? 10 tahun?
Atau mungkin sudah 15 tahun? Gila, 15 tahun bekerja, tapi sampai sekarang harta
produktif Anda baru 2-3 pos.

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli barang yang termasuk harta konsumtif. Bahkan, kalau Anda perhatikan, setiap tanggal muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barangndi rumahnya, entah itu betulbetul diperlukan atau tidak. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah berusaha memiliki harta produktif.

Mungkin Anda berkata, “Iya sih, harta produktif saya cuma tiga, sementara harta
konsumtif saya ada 20. Tapi, dari tiga yang produktif itu kan besar-besar angkanya.” Benarkah angkanya memang besar? Kalau benar syukuur… Jangan lupa bahwa kita tidak berbicara angka di sini, tapi berbicara tentang jumlah pos Harta produktif yang Anda punya. Nah, dengan perbandingan jumlah pos yang sangat berbeda, saya ingin menunjukkan bahwa secara tidak sadar alam bawah sadar kita selalu dipenuhi keinginan untuk membeli barang-barang yang tidak produktif. Buktinya, Harta Konsumtif Anda jauh lebih bervariasi daripada Harta Produktif.

“Tapi kan Harta Konsumtif saya berguna,” kata Anda. “Teve, radio tape, kan ada
gunanya … Teve saya tonton, radio tape saya dengar.”

Betul, ada gunanya, karena itu disebut konsumtif.

Pertanyaannya sekarang, apakah Anda tidak boleh mempunyai barang konsumtif?
Apakah Anda tidak boleh mempunyai teve, radio tape, komputer, busana atau barangbarang konsumtif lainnya? Atau bahkan apakah Anda tidak boleh bermimpi untuk mempunyai handphone tipe terbaru yang diiklankan di teve? Boleh-boleh saja, tapi jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau gaji Anda berhenti, Anda bisa tetap mempunyai penghasilan dari Harta Produktif.

Beli dan Miliki Sebanyak Mungkin …

Harta yang Bisa Memberikan Penghasilan

Seperti sudah saya utarakan, yang harus Anda lakukan adalah memiliki sebanyak
mungkin Harta Produktif. Bahkan, inilah langkah pertama yang harus Anda lakukan
setelah mendapatkan gaji: menyisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.

Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong Harta Produktif kalau Anda memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil, biarpun pada saat ini bunganya kecil.

Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif atau harta yang bisa
memberikan penghasilan untuk Anda? Prinsipnya, hanya ada empat kelompok besar
Harta produktif yang bisa Anda miliki. Kita bisa lihat dibawah ini:

a. Produk Investasi
b. Bisnis
c. Harta yang Disewakan
d. Barang Ciptaan
a. Produk Investasi
Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan
kepada Anda, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak akan berkurang.
Contohnya, deposito di bank. Deposito adalah produk dimana Anda menaruh uang
di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo Anda akan
mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang Anda taruh di bank akan dikembalikan. Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito uang Anda “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan pada tabungan uang Anda tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai tempat menyimpan. Bila ada rekrening tabungan yang Anda perlakukan seperti ini, Anda harus menggolongkannya ke dalam Harta Konsumtif.

“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”

Selain Produk Investasi Pendapatan Tetap, jenis produk investasi kedua adalah produk investasi yang memberikan keuntungan dari pertumbuhan, di mana penghasilan yang Anda dapatkan bukan berasal dari bunga, tapi dari pertumbuhan nilainya. Artinya, penghasilan yang Anda peroleh dari harta tersebut baru bisa Anda dapatkan kalau Anda menjualnya. Jadi, penghasilan yang Anda dapatkan cuma sekali. Contohnya reksadana, emas, saham, tanah, produk-produk investasi yang sifatnya jual beli.

Nah, menariknya, banyak orang yang merasa bahwa Harta Produktif hanya bisa dimiliki dengan modal besar. Nggak jugalah! Beberapa produk reksadana pada saat ini sudah bisa dimiliki dengan modal awal hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah. Deposito bisa dimiliki dengan investasi awal yang hanya beberapa juta rupiah. Koin emas juga bisa dimiliki dengan nilai awal 5 gram. Kalau gaji Anda terbatas, nggak selalu harus mahal ‘kan untuk bisa memiliki Harta Produktif?

b. Bisnis
Banyak orang menyisihkan gaji setiap bulan untuk dijadikan modal bisnis. Tidak
semua bisnis memerlukan modal besar. Beberapa orang yang datang ke seminar saya malah mengaku tidak membutuhkan modal besar ketika memulai bisnis.
Bisnis yang bergerak di bidang jasa sering kali tidak membutuhkan modal besar, kecuali untuk sejumlah peralatan kantor sederhana yang bisa dibeli dengan menyisihkan sebagian kecil dari gaji Anda selama enam bulan gaji.

Bisnis adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda miliki. Masalahnya sekarang, ada banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal bisnis, tapi masih saja takut memulai. Saran saya sederhana: mulai saja. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan kecuali Anda memulainya.

Anda mempunyai kendala waktu? Ya, jangan lakukan saat jam kerja. Banyak orang bisa memulai bisnis dengan berpartner atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang menjalankan bisnisnya, sementara orang yang mempunyai modal bisa tetap mencurahkan waktu untuk pekerjaannya.
Sekali lagi, ini memang bukan pekerjaan gampang, tapi Anda tidak akan tahu
kalau tidak mencoba.

c. Harta yang Disewakan
Sebuah Harta Konsumtif, bila Anda menyewakannya dan bisa mendapatkan uang
dari situ, maka bisa disebut Harta Produktif. Harta apa saja yang bisa Anda
sewakan? Banyak. Sebuah rumah bisa disewakan kepada keluarga muda yang belum mampu membeli rumah sendiri. Mobil Kijang Anda bisa disewakan kepada tamu hotel yang ingin melakukan perjalanan dalam kota dan membutuhkan transportasi. Motor Anda bisa disewakan secara bulanan untuk diojek. Bahkan, Anda bisa membuat gerobak nasi goreng untuk Anda sewakan secara harian kepada penjual nasi goreng.

Apa yang bisa Anda lakukan sekarang dengan gaji Anda adalah mencoba menyisihkannya sedikit demi sedikit agar dapat memiliki harta yang kelak bisa Anda sewakan. Bahkan, kalau mau, jika beberapa dari harta tersebut sudah Anda miliki di rumah dan kebetulan tidak terlalu sering dipakai, Anda bisa menyewakannya. Contoh paling mudah adalah motor yang bisa diojekkan atau komputer di rumah bisa juga Anda jadikan bagian dari usaha rental computer Anda.

d. Barang Ciptaan
Barang Ciptaan adalah salah satu Harta Produktif yang bisa Anda buat sendiri.
Banyak orang bisa membuat sesuatu, memproduksinya secara massal (entah

dengan modal sendiri atau modal orang lain), menjualnya dan mendapatkan royalti. Royalti adalah penghasilan yang umumnya diterima terus-menerus dari penjualan barang atau sesuatu yang sifatnya ciptaan.
Contoh sederhana Barang Ciptaan adalah Tulisan yang sedang Anda baca sekarang.
Saya menulis Tulisan ini selama beberapa minggu, kemudian saya datang ke penerbit. Penerbitlah yang akan memproduksinya secara massal dengan uang mereka. Sebagai pengarang, saya akan menerima royalti yang besarnya sekian persen dari setiap Tulisan yang terjual. Artinya, begitu Anda membeli Tulisan ini, Anda sudah memberikan royalti kepada saya.

Contoh lain adalah album lagu; seseorang bisa merekam suaranya, mengirimkan
rekaman tersebut ke perusahaan rekaman, dan -kalau mereka suka-rekaman lagu
Anda akan diproduksi secara massal.

Saatnya Anda berpikir dan menciptakan sendiri Barang Ciptaan yang tepat untuk
Anda. Prinsip-prinsipnya, Barang Ciptaan umumnya dibuat dengan keahlian
tertentu dan biasanya hanya membutuhkan sedikit dari gaji Anda tiap bulan.
Ketika saya membuat Tulisan ini, misalnya, saya membutuhkan komputer yang
pembeliannya dari gaji saya.

Read Full Post »

Selamat Siang teman-teman sebelumnya mohon maaf seri berikut ini baru bisa terbit karena beberapa minggu kemarin saya masih berada di Samarinda dalam rangka tugas dari Kantor..

Pekan lalu Anda telah melihat bahwa perbedaan penggunaan sistem bunga dapat mempengaruhi saldo investasi Anda pada akhir tahun, walaupun semuanya sama-sama menjanjikan bunga 12 persen per tahun. Sebabnya sederhana: karena jumlah bunga yang Anda terima juga berbeda.

Berbedanya bunga yang Anda dapat itulah yang lalu memunculkan istilah “suku bunga efektif” (effective rate). Yaitu perbandingan jumlah bunga yang Anda dapatkan pada akhir tahun, dengan jumlah uang yang Anda masukkan. Cara menghitung bunga efektif sangat mudah: bunga yang Anda terima pada akhir tahun dibagi dengan nilai nominal uang Anda pada awal tahun.

Jadi, kalau ada sebuah produk investasi yang menjanjikan suku bunga 12 persen per tahun, maka mungkin saja suku bunga efektifnya tidak 12 persen. Apa yang Anda terima pada akhir tahun mungkin lebih dari 12 persen. Dengan mengetahui suku bunga efektif, maka perbedaan yang Anda dapatkan jadi betul-betul terlihat.

Selain itu, suku bunga efektif juga memungkinkan Anda untuk mempercepat perhitungan Anda. Artinya, kalau tadi kita menggunakan contoh Rp 1.000.000 sebagai dana awal investasi Anda, maka untuk selanjutnya, kita bisa saja mengubahnya menjadi Rp 5.000.000.

Anda pun tidak perlu menghitung-hitung lagi berapa jumlah bunga yang Anda dapatkan bila menggunakan sistem bunga berbunga harian, misalnya. Anda tidak perlu menghitung bunga secara berulang-ulang sampai 365 kali. Cukup mengalikannya dengan 12,74 persen, atau kalikan Rp 5 juta tadi dengan 12,74 persen.

MAKIN DINI MAKIN BAIK

Pernah ada orang yang mengatakan bahwa konsep bunga berbunga adalah suatu penemuan terbesar dalam abad ini. Ini tidak berlebihan. Sebagai contoh kalau Anda memasukkan Rp 1.000.000 pada saat ini ke dalam deposito yang memberikan 12 persen per tahun (dengan sistem bunga berbunga tahunan), pada akhir tahun pertama saldo Anda akan menjadi Rp 1.120.000.

Pada akhir tahun kesepuluh, saldo Anda akan menjadi Rp 3.105.848. Pada akhir tahun ke-20, saldo Anda akan menjadi Rp 9.646.293. Lalu pada akhir tahun ke-100, saldo Anda akan menjadi Rp 289.002.190.

Apa yang menyebabkan saldo investasi Anda bisa menjadi begitu besar? Waktu. Semakin lama uang Anda berputar dalam sistem bunga berbunga, makin besar bunga yang Anda dapatkan. Kalau menggunakan contoh bola salju tadi, maka semakin tinggi puncak gunung salju, maka semakin besar pula bola salju itu nantinya ketika sampai di dasar gunung. Ini karena semakin tinggi gunung salju itu, semakin banyak pula perputaran bola salju itu sebelum ia sampai di dasar gunung. Artinya, semakin panjang jangka waktu investasi Anda, maka semakin besar pula saldo investasi Anda kelak.

Kebanyakan investasi meng-gunakan sistem perhitungan bunga berbunga. Sebagai contoh, kalau Anda membeli rumah yang saat ini baru bernilai Rp 100 juta, maka pada akhir tahun, katakan saja rumah itu sudah menjadi senilai Rp 120 juta (ada penambahan nilai 20 persen). Pada akhir tahun kedua, nilai rumah Anda mungkin sudah menjadi Rp 120 juta dikali 20 persen. Begitu seterusnya, walaupun sampai 100 tahun sekalipun. Konsep ini sama untuk hampir semua produk investasi.

Apa hubungan ini semua dengan Anda? Bila Anda menabung untuk tujuan tertentu kelak, maka semakin dini Anda mulai, maka semakin panjang pula jangka waktu investasi Anda, sehingga ini akan makin baik untuk Anda.

BEDA KECIL BERARTI BESAR

Perlu pula disadari perbedaan suku bunga (antar-bank) yang kecil sekalipun bisa berbeda jauh pengaruhnya terhadap saldo investasi Anda. Sebagai contoh, misalkan saja pada saat ini Anda punya Rp 2 juta. Anda lantas membuka deposito 12 bulan pada dua bank, Bank A dan Bank B. Masing-masing Rp 1 juta.

Katakan saja, suku bunga di Bank A adalah 9 persen per tahun, sedangkan di Bank B adalah 10 persen per tahun (bedanya 1 persen saja). Artinya, pada akhir tahun pertama, Bank A akan memberikan bunga Rp 100 ribu, dan Bank B hanya Rp 90 ribu. Bedanya Rp 10 ribu. Kecil? Memang.

Tapi bila dilihat secara jangka panjang, perbedaan saldo investasi pada kedua deposito itu akan sangat besar. Makin lama waktunya, makin besar perbedaan itu. Pada akhir tahun ke-20, misalnya, saldo Anda di Bank A sudah Rp 5.604.411 dan Bank B Rp 6.727.500. Berarti ada perbedaan Rp 1.123.089.

Pada akhir tahun-50, saldo di Bank A adalah Rp 74.357.520, sedangkan di Bank B mencapai Rp 117.390.853. Jadi perbedaan saldo di kedua bank adalah Rp 43.033.333. Besar sekali!

PADUKAN WAKTU DAN FREKUENSI

Contoh-contoh di atas mengandaikan Anda melakukan investasi sekali saja (lump sum), di mana Anda memasukkan uang sekali saja, dan mendiamkannya selama bertahun-tahun, sampai 50 atau 100 tahun.

Tapi bagaimana kalau Anda tidak melakukan investasi sekali saja, tapi rutin setiap tahun? Misalkan saja setiap awal tahun Anda menyetorkan Rp 1 juta. Setelah 50 tahun, jumlah yang Anda setorkan menjadi Rp 50 juta. Tapi karena Anda memasukkannya dalam investasi bunga berbunga, maka saldo investasi Anda setelah 50 tahun menjadi Rp 2.688.020.438!

Besar sekali! Padahal, jumlah total yang Anda setorkan selama 50 tahun itu hanya Rp 50 juta. Coba Anda bandingkan dengan investasi sekali saja (Rp 1 juta), dan hasil yang Anda dapatkan setelah 50 tahun adalah Rp 289 juta.

Karena itu perpaduan antara frekuensi investasi yang rutin dengan panjangnya jangka waktu investasi yang Anda miliki, akan menghasilkan saldo investasi yang betul-betul dahsyat besarnya. Jadi, bagaimana? Masih mau menunda berinvestasi?

BISA PERIODIK ATAU SEKALI SAJA

Bila Anda melakukan investasi, maka ada dua pilihan, bisa melakukan secara periodik, atau sekali saja. Untuk investasi secara periodik, Anda bisa melakukan investasi setahun sekali, enam bulan sekali, atau bahkan sebulan sekali. Beberapa orang ada yang berinvestasi setiap satu atau dua minggu sekali. Tapi yang penting di sini adalah bahwa yang dimaksud dengan periodik adalah melakukan investasi secara rutin.

Biasanya, berinvestasi secara periodik merupakan cara yang paling ampuh untuk mengejar target dana yang besar kelak. Anda tak perlu memiliki jumlah dana yang besar pada saat ini, tapi cukup menyisihkan sebagian kecil penghasilan Anda untuk diinvestasikan ke dalam sebuah produk investasi. Lama kelamaan, Anda akan memiliki saldo investasi yang begitu besar, karena Anda juga mendapatkan bunga.

Berinvestasi secara periodik sama seperti seorang tukang bangunan yang sedang membuat dinding. Apa yang ia lakukan adalah mengambil sebuah bata, mengoleskannya dengan semen, lalu menempelkannya. Ambil lagi sebuah bata, memberikan semen, dan menempelkannya disebelah kiri atau kanan bata yang tadi. Begitu seterusnya sampai ia bisa menyelesaikan satu lapis. Setelah itu, ia akan melanjutkannya dengan lapis kedua. Lapis kedua selesai, dilanjutkan dengan lapis ketiga. Begitu seterusnya.

Lama kelamaan, Anda akan melihat sebuah dinding. Persis seperti itulah gambarannya bila Anda berinvestasi secara periodik. Hanya bedanya, dengan berinvestasi, Anda juga mendapatkan bunga. Sementara tukang bangunan tadi, tidak mendapatkan ‘bunga’. Yang ia lakukan hanyalah seperti menabung ke dalam celengan saja secara rutin. Tetapi prinsipnya sama saja: sedikit-sedikit, akan menjadi bukit.

Anda juga bisa berinvestasi sekali saja (lump sum). Artinya, Anda cukup memasukkan uang sekali saja ke dalam sebuah produk investasi, deposito misalnya, lalu Anda diamkan selama katakanlah sepuluh tahun. Setiap tahun, Anda akan mendapatkan bunga, yang bisa Anda tambahkan ke uang pokok Anda. Kemudian, didepositokan lagi, sehingga bunganya makin lama makin besar. Tapi, selama itu Anda tidak pernah menyentuhnya, sampai selama sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, Anda akan memiliki jumlah dana yang sangat besar.

Bersambung minggu depan…..

Read Full Post »

Sorry broo baru bisa mulai nerbitin lagi karena beberapa minggu ini saya berada di samarinda, rencananya saya balik tanggal 31 Agustus 2007. and saat ini saya menginap di Hotel indah jaya, berbekal dari warnet akhirnya saya bisa meluncurkan tulisan ini he….he…..

Ok Sekaramg kita mebicarakan mau dikemanakan kah uang kita setelah berhasil menyimpan uang mungkin sebagian dari kita sudah mengenal yang namanya Investasi, nah sebelum memasuki ke kiat kiat melakukan pengembangan dana saya mencoba memaparkan beberapa tulisan dibawah ini:

Bila Anda melakukan investasi, ada dua pilihan: melakukan investasi secara periodik, atau investasi sekali saja. Keduanya memberikan nilai investasi yang sama berarti. Tinggal Anda pilih mana yang sesuai dengan kekuatan dana yang Anda miliki.

Periodik

Bila berinvestasi secara periodik, maka ini berarti Anda melakukan investasi secara rutin. Anda bisa melakukan investasi setahun sekali, enam bulan sekali, atau bahkan sebulan sekali. Beberapa orang ada yang berinvestasi setiap satu atau dua minggu sekali. Tapi yang penting di sini adalah bahwa yang dimaksud dengan periodik adalah melakukan investasi secara rutin.

Biasanya, berinvestasi secara periodik adalah cara yang paling ampuh untuk mengejar target dana yang besar kelak. Anda tak perlu memiliki jumlah dana yang besar pada saat ini, tapi Anda cukup hanya menyisihkan sebagian kecil penghasilan Anda untuk lalu diinvestasikan ke dalam sebuah produk investasi. Lama kelamaan, Anda akan memiliki saldo investasi yang begitu besar, karena Anda juga mendapatkan bunga.

Berinvestasi secara periodik sama seperti seorang tukang bangunan yang sedang membuat dinding. Apa yang ia lakukan adalah mengambil sebuah bata, mengoleskannya dengan semen, lalu menempelkannya. Ambil lagi sebuah bata, memberikan semen, dan menempelkannya di sebelah kiri atau kanan bata yang tadi. Begitu seterusnya sampai ia bisa menyelesaikan satu lapis. Setelah itu, ia akan melanjutkannya dengan lapis kedua. Lapis kedua selesai, dilanjutkan dengan lapis ketiga. Begitu seterusnya.

Lama kelamaan, Anda akan melihat sebuah dinding. Persis seperti itulah gambarannya bila Anda berinvestasi secara periodik. Hanya bedanya, dengan berinvestasi, Anda juga mendapatkan bunga. Sementara tukang bangunan tadi, tidak mendapatkan ‘bunga’. Yang ia lakukan hanyalah seperti menabung ke dalam celengan saja secara rutin. Tetapi prinsipnya sama saja: sedikit-sedikit, akan menjadi bukit.

Sekali Saja

Anda juga bisa berinvestasi sekali saja (lump sum). Artinya, Anda cukup memasukkan uang sekali saja ke dalam sebuah produk investasi. Deposito, umpamanya, Anda endapkan selama -katakanlah- sepuluh tahun. Setiap tahun, Anda akan mendapatkan bunga yang bisa ditambahkan ke uang pokok. Kemudian didepositokan lagi sehingga bunganya makin lama makin besar. Tapi, selama Anda tidak pernah menyentuhnya, sampai selama sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, Anda akan memiliki jumlah dana yang sangat besar.

Berinvestasi secara lump sum persis seperti kalau Anda naik ke sebuah gunung bersalju. Dari atas, Anda ambil sekumpulan salju dengan tangan Anda, lalu membentuknya menjadi sebuah bola. Setelah itu, Anda lepaskan bola salju itu dari atas, untuk digelindingkan ke bawah. Apa yang terjadi? Dalam perjalanannya dari atas sampai bawah, bola salju itu makin lama akan makin besar. Dan pertumbuhan bola salju itu persis seperti deret ukur:

1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256, 512, 1024, 2048, 4096, dan seterusnya.

Nah, seperti itulah gambarannya bila Anda berinvestasi secara lump sum.

Gunakan Hukum 72

Kapan investasi Anda berlipat menjadi dua? Kalau Anda melakukan investasi sekali saja, maka ada saatnya jumlah investasi Anda akan berlipat dua. Sebagai contoh, bila Anda menginvestasikan Rp 1 juta pada deposito yang memberikan suku bunga 12% per tahun (di-roll over setiap tahun), maka uang Rp 1 juta Anda akan berlipat dua dalam waktu enam tahun.

Cara menghitungnya adalah dengan menggunakan “Hukum 72”. Bagi angka 72 dengan suku bunga (misalnya 12%) dari produk investasi Anda. Sebagai contoh: (72/12) x 1 tahun = 6 tahun.

Itulah jangka waktu yang dibutuhkan agar investasi Anda bisa berlipat dua.

Bersambung minggu depan saya akan memperlihatkan tulisan mengenai konsep investasi melalui tabungan dan cara perhitungannya

Read Full Post »

Dear All Mohon Maff sebelumnya seri III baru bisa muncul saat ini karena hari jum’at tgl 17 agustus 2007 server lagi suspend, untuk itu di hari sabtu ini masih dalam suasana kemerdekaan saya mengajak teman-teman sekalian untuk selalu cinta pada INDONESIA Merdeka….. merdeka…. semoga bangsa ini Menjadi bangsa yang besar dan semakin Jaya selalu Amin…

Sumary jum’at sebelumnya : Apa perbedaannya ber penghasilan tinggi & kaya…….

Oke kita lanjutkan pembahasan kita hari ini saya akan membahas trik-trik untuk menyisihkan penghasilan…

Ada 3 TRIK UNTUK BISA MENYISIHKAN PENGHASILAN yang Anda peroleh setiap bulannya:

Pada kenyataannya, saya sering menemukan ada banyak orang yang-walaupun penghasilannya besar-sering kali kesulitan untuk menyisihkan uang dari penghasilannya. Bukan satu dua kali saya bertemu dengan orang yang punya gaji
hingga sepuluh juta, bahkan dua puluh juta, tapi teteeeeup saja susah buat mereka untuk bisa menyisihkan penghasilan agar bisa diinvestasikan dan diputar menjadi lebih besar lagi.

Oleh karena itu, saya punya 3 trik yang mungkin bisa Anda pakai untuk bisa menyisihkan penghasilan sebelum penghasilan itu habis Anda pakai.

1. Menabunglah dimuka, jangan dibelakang.
Coba lihat, apakah selama ini Anda selalu menabung di belakang setelah
membelanjakan semua penghasilan Anda? Bila ya, pantas saja Anda jarang bisa
menabung. Kenapa? Oleh karena, uang Anda selalu habis tak berbekas. Maklum,
uang memang lebih enak dipakai daripada ditabung. Ya, kan? Jadi, daripada
ditabung di belakang setelah membelanjakan semua penghasilan Anda, kenapa
tidak mencoba untuk menabung di muka segera setelah Anda mendapatkan

penghasilan? Katakan saja Anda dapat penghasilan tiap tanggal 26 setiap bulan.
Cobalah menabung setiap tanggal 26, 27, atau 28 sebelum Anda memakai
penghasilan itu. “Loh, nanti penghasilan saya habis dong?” begitu mungkin kata
Anda. Ya biar saja, toh Anda sudah sisihkan dulu sebelum penghasilan itu dipakai,kan? “Lho, nanti uang untuk biaya hidup saya dan keluarga berkurang dong?”
Hallah, kalaupun penghasilan Anda naik, toh penghasilan itu akan habis juga,
kan? Jadi, sebelum habis, kenapa Anda tidak selamatkan dulu sebagian, daripada
nabungnya di belakang terus habis? Ya nggak?

2. Minta tolong kantor yang memotongnya untuk Anda. Pada beberapa kasus,
Anda mungkin bisa minta tolong kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda
dan melakukan proses menabungnya buat Anda.
Saya kasih contoh, kalau Anda punya investasi di reksadana, pembelian reksadana
tersebut harus dilakukan dengan mentransfer uang ke rekening bank custodian mereka. Nantinya uang itu oleh mereka dibelikan unit reksadana. Disini, Anda bisa meminta kantor Anda untuk memotong penghasilan Anda di muka dan melakukan proses transfer itu sehingga Anda tidak perlu lagi repot-repot melakukan proses menabung. Toh, Anda tetap menabung di muka, kan? Pertanyaannya sekarang, memang bisa kantor melakukannya? Bisa dong. Cuma, Anda harus ngomong dulu ke mereka. Wong kalau anda punya utang ke kantor saja cara pengembalian yang mereka minta adalah dengan sistem potong gaji, kan? Kalau mereka bisa memotong gaji Anda untuk menutupi utang yang mereka berikan buat Anda, apalagi kalau Anda cuma minta kantor melakukan proses menabung buat Anda? All you have to do is just ask….

3. Pakai celengan. Eit, jangan kaget, yang namanya celengan itu tidak selalu buat anak kecil, tapi juga untuk orang dewasa. Bedanya adalah apa yang Anda celeng. Kalau anak kecil nyeleng koin, entah seratus, lima ratus, atau seribu, Anda bisa nyeleng-katakan-lembaran dua puluh ribu rupiah. Lho, bagaimana caranya?
Gampang: setiap kali Anda mendapatkan lembaran uang dua puluh ribu rupiah,
tetapkan tekad: JANGAN PERNAH MENGGUNAKAN UANG ITU UNTUK BELANJA. Langsung saja masukkan ke celengan. Jadi, setiap kali bertemu lembaran uang dua puluh ribu, langsung dicelengin. Setiap kali bertemu lembaran dua puluh ribu, celeng lagi. Begitu seterusnya. Anda akan kaget begitu tahu berapa jumlah yang bisa Anda kumpulkan di akhir bulan. Misalnya, Anda belanja barang senilai Rp.15.000,- dengan menggunakan lembaran uang Rp.50.000,-. Berarti, Anda akan punya kembalian sebesar Rp.35.000,-, yang terdiri atas selembar dua puluh ribu dan tiga lembar lima ribu. Nah, celengin deh uang dua puluh ribu Anda. Anda toh sudah menetapkan tekad sebelumnya untuk tidak memakai lembaran dua puluh ribu itu, kan?
Sekarang, untuk membentuk aset dan bisa menjadi kaya, apakah semuanya harus
bergantung pada kemampuan Anda dalam menyisihkan penghasilan? Sebenarnya, ada
lagi yang menentukan, yaitu seberapa bergunanya harta yang sudah Anda kumpulkan
dan miliki sepanjang hidup Anda.

Untuk itu, kita akan membicarakannya pada kiat pertama setelah ini, yang akan
disusul dengan kiat-kiat lain yang berguna buat Anda dalam mengelola kekayaan.

bersambung

Jum’at……….. depan

Sumary : Kiat kiat mengelola dana yang telah kita kumpulkan agar cepat bertambah….

Read Full Post »

Apa kabar hari ini…

ok sekarang kita lanjutkan pelajaran kita mengenai cara merubah penghasilan kita menjadi pendapatan tambahan sebelumnya mari kita lihat summary sebelumnya: Kesalah pahaman dalam terjadi di masyarakat kita mengenai karyawan. Bahkan, kesalahpahaman ini kadang-kadang melekat dan tertulis pada kebanyakan Tulisan wirausaha yang sering kali menyarankan orang untuk tidak menjadi karyawan kalau ingin kaya. Apa itu? Yaitu, banyak orang yang menyamakan kata “kaya” dengan “penghasilan tinggi”.

Setelah memflash kembali seri I mari kita lanjutkan pengetahuan berikut ini:

kalau Anda kebetulan berprofesi sebagai seorang karyawan, jangan minder kalau bertemu dengan teman Anda yang pengusaha atau teman Anda yang punya penghasilan lebih besar. Kalau seorang pengusaha mungkin saja punya penghasilan yang lebih besar dan tidak terbatas hingga pendapatan teman anda bisa 1000 kali lipat dari penghasilan yang anda terima per bulan. Namun, kalau dalam soal mengelola penghasilan hm…. belum tentu dia lebih baik dari Anda sehingga bisa saja Anda-lah yang lebih kaya dalam soal finansial daripada teman Anda yang pengusaha itu. Banyak lo.. karyawan yang sudah bisa mencapai banyak hal dalam hidupnya, seperti rumah sendiri, kendaraan sendiri, tabungan, deposito, dan sejumlah investasi lain, sementara temannya yang pengusaha dan punya penghasilan lebih yang usianya sama dan sudah lama menjalankan usahanya belum mencapai apa-apa dalam hidupnya, padahal penghasilan usahanya cukup besar.

Seperti contoh berikut:
dalam pencapaian kata kaya, Saudara saya bisa menjadi inspirasi, dia hanya bekerja sebagai Room service di salah satu hotel dijakarta yang penghasilannya Anda bisa tebak sendiri, meskipun terkadang mendapatkan tips dalam pelayanan ke tamu hotel penghasilan yang diterima dalam 1 bulan tidak lebih dari 1,5 jt itu sudah termasuk tips tamu hotel. dia baru bekerja sekitar 5 tahun dan saat ini dia bisa membeli rumah ukuran 100 m dengan luas tanah 150 m di daerah LA. dekat dengan kampus dan tidak terlalu jauh dengan jalan menuju ke depok (arah jakarta) hebatnya lagi pembelian dilakukan dengan Cash. saat saya mewawancarainya dia mengatakan dia sangat berhemat dan berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah setiap bulan dan tips yang diterima dari tamu hotel langsung dimasukkan kecelengan kaleng. setiap bulan celengan tersebut di buka dan di setorkan ke bank.

Jadi, kita bedakan dulu antara “kaya” dan “penghasilan tinggi”. Itu adalah 2 hal yang sangat berbeda. Anda tetap bisa kaya walaupun bekerja sebagai seorang karyawan. siiip deh…?

well…. sekarang pasti timbul pertanyaan berikutnya: “Bagaimana caranya saya bisa menumpuk kekayaan kalau penghasilan sebagai karyawan di kantor tidak besar?” Jangan kaget, dari pengalaman saya memberikan materi tentang pengelolaan keuangan, ada 3 pemikiran yang harus Anda miliki sebagai seorang karyawan:

1. Berapa pun gaji yang diberikan perusahaan kepada Anda, tidak-sekali lagi
tidak-menjamin apakah Anda bisa menumpuk kekayaan. Kalau penghasilan Anda sekarang Rp.2 juta per bulan, Anda pikir hidup Anda akan lebih baik dan Anda bisa menumpuk kekayaan kalau perusahaan Anda memberikan gaji Rp.5juta per bulan? No way, Maan… Belum tentu. Anda sering dengar nggak: ada banyak orang yang bolak-balik pindah perusahaan hanya karena mengejar gaji yang lebih tinggi? Kenyataannya, setelah ia pindah dan punya gaji yang lebih besar, gajinya teteeeeup saja habis tanpa ada kekayaan yang bisa ditumpuk. Ini karena berapa pun gaji yang Anda dapat, tidak menjamin apakah Anda bisa menumpuk kekayaan, yang menjamin adalah bagaimana cara Anda mengelola gaji tersebut, termasuk kalau gaji itu benar memang ngepas dengan kondisi Anda sekarang.

2. Jangan selalu menjadikan kondisi Anda di rumah-entah Anda banyak tanggungan, banyak utang, atau boros-sebagai alasan untuk selalu minta naik gaji. Tahu nggak, kalau Anda mendapat gaji dengan jumlah angka tertentu, pastilah perusahaan Anda sudah memiliki hitungan sendiri terhadap besarnya jumlah gaji yang diberikan. Contoh ya: kalau perusahaan memberikan gaji pada Anda sebesar Rp.2 juta per bulan, angka itu adalah angka yang memang sudah disesuaikan dengan jabatan dan daftar pekerjaan (job description) yang harus Anda lakukan setiap harinya. Perusahaan tidak akan memberi Anda gaji yang juga lebih besar hanya karena Anda belum punya rumah, belum punya motor, dan selalu kehabisan uang di
tengah bulan.
Perusahaan hanya akan memberi Anda gaji sesuai dengan job description Anda,bukan disesuaikan dengan situasi dan kondisi di rumah Anda. Artinya, kalau anda merasa bahwa gaji Anda koq sepertinya nggak cukup untuk membiayai keluarga Anda yang anaknya banyak, yah, itu bukan salah perusahaan Anda. Toh ketika anda menambah anak, Anda nggak minta izin dulu ‘kan ke perusahaan?

3. Menjadi kaya bergantung 100% pada apa yang Anda lakukan terhadap keuangan Anda, tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda. Ya, dalam soal menumpuk kekayaan: you are on your own. Itu urusan Anda sepenuhnya. Menjadi kaya bergantung pada apa yang Anda lakukan, dan tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda. Memang sih, akan enak memang kalau perusahaan memberikan banyak hal kepada Anda sebagai karyawannya. Akan tetapi, kalau Anda mau kaya, itu semua bergantung pada apa yang Anda lakukan terhadap penghasilan dan fasilitas yang Anda dapatkan. Saya sering kali melihat ada banyak orang yang pindah kerja, berharap gaji yang lebih besar dengan harapan untuk jadi kaya,tapi ia sendiri tidak melakukan apaapa untuk bisa menjadi kaya. Ia tidak berusaha untuk jadi lebih hemat, ia tidak berusaha untuk menambah pengetahuannya agar bisa jadi kaya, ia tidak berusaha mengetahui apa cara yang baik dalam mengelola gajinya, dan tidak berusaha untuk berubah. Ia hanya meloncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mendapatkan gaji yang lebih besar agar bisa jadi kaya. Kenyataannya, untuk menjadi kaya sepenuhnya bergantung pada Anda, tidak selalu pada apa yang diberikan perusahaan kepada Anda.

Itulah 3 hal yang harus ada di pikiran Anda sebelum memutuskan untuk menjadi kaya sebagai seorang karyawan.

Bagaimana Caranya?

Banyak orang yang bertanya ke saya: “Pak ….., kayaknya kok nggak mungkin ya
kita bisa jadi kaya dengan menjadi seorang karyawan? Kalau kaya karena profesinya pengusaha sih mungkin-mungkin saja. Itu masuk akal. Tetapi, sebagai karyawan?.. Memang sih saya pernah melihat ada yang bisa kaya. Tetapi bagaimana caranya kalau jabatan si karyawan di perusahaan tidak tinggi-tinggi amat? Apa bisa?”

Jawab saya: “BISA …!”

Rahasianya sebetulnya adalah dengan memaksimalkan penghasilan yang Anda dapatkan. Saya kasih contoh ya: misalkan saja penghasilan Anda sebulan-katakan saja-Rp.1,5 juta. Anda berkeluarga dengan 1 orang anak. Nah, rahasia untuk bisa jadi kaya sebetulnya adalah dengan bertanya kepada diri Anda sendiri, seberapa besar dari Rp.1,5 juta tersebut setiap bulannya yang bisa Anda sisihkan di luar pengeluaranpengeluaran Anda? Nantinya, bagian yang disisihkan ini harus diputar sedemikian rupa sehingga nantinya bisa menjadi aset dan membantu Anda menjadi kaya.

Aset di sini maksudnya tentu saja aset yang kelak nantinya bisa memberikan
penghasilan buat Anda. Jadi, di luar gaji, kelak nanti Anda juga akan mendapatkan penghasilan yang sifat nya pasif dari aset tersebut, yaitu penghasilan yang bisa Anda dapatkan walaupun Anda diam dan tidak lagi bekerja.

Oke, katakan saja dari Rp.1,5 juta perbulan tersebut Anda mampu menyisihkan
Rp.250 ribu per bulan. Nah, Rp.250 ribu per bulan inilah yang harus Anda putar untuk bisa dijadikan aset. Pertanyaannya, bagaimana cara memutar Rp.250 ribu per bulan itu agar bisa ditumpuk dan dijadikan aset buat Anda kelak? Tentunya ada lagi pelajaran tentang investasi yang perlu Anda ketahui. Hanya saja, Rp.250 ribu per bulan itu bisa Anda putar dengan untung yang sedikit atau besar, atau dengan tingkat kecepatan yang cepat atau lambat. Semuanya kembali kepada Anda.

Sekarang, Anda mungkin akan bertanya: “Kapan bisa kaya kalau jumlah yang diputar
setiap bulan hanya Rp.250 ribu?” Jawab saya: “Anda harusnya bersyukur. Jumlah
Rp.250 ribu per bulan jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Kalau Anda
Mengetahui sebenarnya, Anda akan kaget karena sering kita lihat orang yang punya penghasilan Rp.5-10 juta sebulan, tapi tidak bisa menyisihkan hanya Rp.100 ribu per bulan. Jadi Anda harusnya bersyukur masih bisa menabung biarpun cuma Rp.250 ribu per bulan. Kenyataannya, Anda mungkin akan dapat bonus juga setiap tahun. Itu ‘kan bisa jadi tambahan juga buat Anda”

Pertanyaan lain: “Gimana cara memutar uang yang hanya Rp.250 ribu per bulan
untuk bisa tumbuh besar dan menjadi aset buat saya kelak?” Jawab saya: “Semua
bergantung pada ke mana Anda memutar uang tersebut. Namun, percayalah, kalau
Anda rutin dan konsisten menyisihkan uang setiap bulan untuk diputar dalam bentuk investasi, dalam jangka panjang aset Anda tumbuh luar biasa.”

“Walaupun penghasilan Anda sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, tetapi Anda juga bisa menumpuk kekayaan bila Anda tahu bagaimana caranya.”

Masalahnya, bagaimana kalau Anda tidak bisa menyisihkan penghasilan untuk ditabung dan diputar dalam bentuk investasi? Jujur saja, kalau Anda tidak bisa
menyisihkan penghasilan untuk ditabung dan diputar dalam bentuk investasi,
penyebabnya bisa macam-macam. Akan tetapi, apa pun alasannya, berapa pun
penghasilan Anda, harus ada yang bisa disisihkan. Memang, kalau gaji Anda Rp.1,5
juta per bulan dan Anda mencoba menyisihkan uang untuk diinvestasikan, Anda
mungkin tidak lagi bisa hidup dengan Rp.1,5 juta per bulan, tapi lebih rendah dari jumlah itu. Yaah, anggap saja itu konsekuensi yang harus Anda lakukan untuk bisa jadi kaya dengan penghasilan yang terbatas.

Itulah sebabnya, pada salah satu kiat di Tulisan ini, akan kita bahas juga tentang bagaimana Anda bisa mengatur pengeluaran Anda agar-ujung-ujungnya-Anda bisa menyisihkan penghasilan untuk diinvestasikan. Tentunya, semakin besar penghasilan Anda, biasanya sih, harusnya akan jadi lebih mudah bagi Anda untuk meyisihkan jumlah yang lebih besar lagi. Harusnya …

Bersambung….. jum’at depan

Sumary episode III: Trik untuk menyisihkan penghasilan

Read Full Post »

Older Posts »